Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Hikmah Puasa Ramadhan
Hikmah Puasa Ramadhan
Ada nilai dasar yang sangat penting dan mendasar dari ibadah puasa, yaitu meraih takwa. Hikmah utama puasa terse-but tersirat dalam dua rangkaian kata yang menjadi penutup ayat tentang perintah puasa,
Selasa, 31 Juli 2012

Ada nilai dasar yang sangat penting dan mendasar dari ibadah puasa, yaitu meraih takwa. Hikmah utama puasa tersebut tersirat dalam dua rangkaian kata yang menjadi penutup ayat tentang perintah puasa,
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. al-Baqarah: 183)
Kata la’alla (mudah-mudahan/agar) biasa digunakan untuk tarajji, yakni mengharapkan sesuatu yang sangat mungkin ter¬jadi. Artinya dengan puasa ini diharapkan terbangun ketakwaan, rasa takut, dan ketaatan kepada Allah swt.
Korelasi antara puasa dengan ketakwaan terlihat dari em¬pat aspek, sebagaimana dikemukakan Dr. Ali Abdul Wahid Wafi dalam bukunya, Buhuts fi Al-lslam,
Aspek pertama, puasa menuntut orang yang menjalan-kannya untuk menahan diri dari hasrat-hasrat biologis kebutuhan vital tubuh demi mengimplementasikan perintah Allah dan mendekatkan diri pada-Nya. Tuntutan ini jelas tak akan bisa terpenuhi tanpa peran ketakwaan, rasa takut, dan ketaatan kepada Allah. Aspek kedua, puasa tercermin dalam hal-hal negatif yang hanya diketahui Allah, tidak terlihat oleh orang lain. Dengan demikian, orang yang berpuasa ini benar-benar tulus demi mencari ridha Allah tanpa dikotori noda-noda riya’.
Aspek ketiga, karena mencakup menahan diri dari makan-an dan minuman, maka puasa dapat menurunkan kekuatan tubuh sekaligus melemahkan pengaruh kekuatan ini pada diri seorang hamba. Manakala kekuatan dan pangaruh kekuatan ini melemah dalam diri seseorang, maka hawa nafsunya juga ikut melemah dan jiwanya menjadi bersih. Manakala hawa nafsunya melemah dan jiwanya bersih, maka ketakwaannya meningkat dan jauh dari perbuatan-perbuatan maksiat. Sebab sebagian be¬sar perbuatan maksiat datang dari tubuh dan hawa nafsu.
Terkait hal ini Rasulullah saw. bersabda, "Puasa adalah perisai dan peluruh (hawa nafsu)." (Muttafaq alaih). Dengan de-mikian, puasa diserupakan mengebiri. Artinya, puasa mampu meredam hawa nafsu dan melemahkan kecenderungan terhadapnya.
Aspek keempat, puasa melatih keinginan untuk menguasai hasrat dan hawa nafsu, sehingga seseorang mendapatkan kekuatan kekebalan terhadap hasrat dan hawa nafsu ini pada saat tak berpuasa. Saat seseorang berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, maka peranan puasa Ramadhan tersebut sama dengan peranan plasma darah (serum) dalam melindungi tubuh. Sebagaimana halnya plasma yang bekerja memberikan daya tahan pada tubuh yang membuatnya mampu melawan je¬nis-jenis kuman tertentu, maka puasa pun memberikan kekuatan (kekebalan) pada jiwa yang membuatnya mampu melawan hawa nafsunya.
Orang bertakwa dalam al-Qur’an adalah manusia ideal, kekasih Tuhan. Ibadah, salah satunya puasa, diwajibkan agar orang menjadi takwa. Derajat manusia ditentukan oleh ketak-waannya. Ada beberapa keutamaan orang yang bertakwa, sebagaimana diungkapkan Sayyid Qasim Syubbar, di antaranya adalah:
  1. Pujian dan penghargaan dari Allah swt.: "Jika kamu bers-abar dan bertakwa, maka demikian itu termasuk perkara yang sangat menentukan." (QS. Ali Imran: 186).
  2. Penjagaan dan penerimaan: "Jika kamu bersabar dan bertakwa, tidak akan memperdayakan kamu tipuan mereka sedikitpun." (QS. Ali Imran: 120).
  3. Bantuan dan pertolongan: "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (QS. an-Nahl: 128).
  4. Jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki yang halal: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah jadikan bagi¬nya jalan keluar dari Allah dan Allah akan beri dia rezeki dari tempat yang tak terduga." (QS. ath-Thalaq: 2-3).
  5. Memperbaiki amal: "Wahai orang-orang yang beriman, ber-takwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amal kamu." (QS. al-Ahzab: 70-71).
Karena begitu mulianya orang yang bertakwa, Allah memberikan banyak penjelasan dalam al-Qur’an berkenaan dengan karakteristik takwa. Dan kunci perolehan ketakwaan itu, salah satunya yang terpenting adalah dengan berpuasa. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa se¬bagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. al-Baqarah: 183).

 







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa