Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Ilmu Tafsir » » Tafsir Bismillah ( Bag 1 )
Tafsir Bismillah ( Bag 1 )
Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan,
Kamis, 27 Juni 2013

Firman Allah SWT
Bismillahirrahmaanirrahiim

Artinya : Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : Dengan menyebut nama Allah aku makan.

Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah mamul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki amil.

Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.
1. Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah SWT.

2. Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata : Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah SWT.
Kata tersembunyi itu kita ambil dari kata kerja amal (dalam istilah nahwu) itu pada asalnya adalah kata kerja. Ahli nahwu tentu sudah mengetahui masalah ini. Oleh karena itulah kata benda tidak bisa menjadi amil kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Lalu mengapa kita katakan : Kata kerja setelahnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan, karena lebih tepat kepada yang dimaksud. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW bersabda.

Barangsiapa yang belum menyembelih, maka jika menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah [1] Atau : Hendaklah ia menyembelih atas nama Allah [2]
Kata kerja, yakni menyembelih, disebutkan secara khusus disitu.

Lafzhul Jalalah (Allah).
Merupakan nama bagi Allah Rabbul Alamin, selain Allah SWT tidak boleh diberi nama denganNya. Nama Allah SWT merupakan asal, adapun nama-nama Allah selainnya adalah tabi’ (cabang darinya).

Ar-Rahmaan
Yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.

Ar-Rahiim
Yakni yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’iil, yang menunjukkan telah terlaksananya curahan kasih saying tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang merupakan sifat Allah, seperti yang terkandung dalam nama Ar-Rahmaan dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah SWT, yakni mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangiNya, seperti yang terkandung dalam nama Ar-Rahiim. Jadi, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiiim adalah dua Asma Allah SWT yang menunjukkan Dzat, sifat kasih sayang dan pengaruhnya, yaitu hikmah yang merupakan konsekuensi dari sifat ini.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa