Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » 27 Macam Perilaku Islami » Janji (Tepati)
Janji (Tepati)
Janji (Tepati). Salah satu tolok ukur kadar keimanan seseorang adalah dengan melihat bagaimana ia memelihara janjinya. Sebab Allah SWT mewajibkan orang yang beriman agar menepati janji.
Jum'at, 17 Februari 2012
Tulisan Terkait

Janji (Tepati). Salah satu tolok ukur kadar keimanan seseorang adalah dengan melihat bagaimana ia memelihara janjinya. Sebab Allah SWT mewajibkan orang yang beriman agar menepati janji. "Hai orang-orang yang beriman, tepatilah segala janji." (QS. 5/AI- Maidah: 1) Yang dimaksud segala janji di sini adalah janji kepada Allah SWT, janji terhadap diri sendiri dan terhadap sesama manusia.

Kerja. Islam melarang pemeluknya menjadi pengangguran, apalagi meminta-minta. Jadi setiap orang yang beriman, wajib bekerja. Apapun jenis pekerjaannya, asalkan halal jauh lebih terpuji daripada menganggur. Allah SWT berfirman, Katakanlah (Hai Muhammad), "Bekerjalah kamu, Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu." (QS. 9/At- Taubah: 105)

Kewajiban bekerja ini telah dicontohkan oleh para nabi dan rosul terdahulu. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi Adam as. mencari nafkah dengan bercocok-tanam. Nabi Dawud as. seorang pandai besi. Nabi Nuh as. seorang tukang kayu. Nabi Idris as. bekerja menjadi penjahit. Nabi Musa as. adalah seorang penggembala. Nabi Muhammad saw. sendiri pada masa mudanya juga menjadi penggembala, lalu berdagang. Bahkan setelah menjadi Rosul Allah SWT, beliau masih bekerja memberi makan untanya, menambal sandal, menjahit pakaian, dan menggiling gandum sewaktu pembantunya sedang sakit. Sesekali beliau juga pergi belanja ke pasar serta membawa belanjaannya sendiri.

Maaf-memaafkan adalah tradisi yang harus dihidupkan di antara umat Islam. Allah SWT memerintahkan, "Maafkanlah dan suruhlah mengerjakan kebaikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A’rof: 199). Melakukan pembalasan terhadap perbuatan merugikan seseorang memang bukan suatu kesalah­an, namun memaafkan lebih terpuji. "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang seimbang. Barangsiapa memaafkan dan mengadakan perdamaian, maka pahalanya atas tanggungan Allah." (QS. 42/Asy-Syuro: 40)

Malu berbuat yang tidak terpuji dan malu membuat kerusakan. Prioritas malu hendaknya kepada Allah SWT. Sebab jika kita sudah malu kepada Allah SWT, dalam keadaan sendirian pun, Insya Allah kita tidak akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Iman terdiri dari tujuh puluh bagian. Yang paling utama adalah pengakuan bahwa ’Tiada Tuhan selain Allah". Yang paling rendah tingkatannya adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Dan rasa malu adalah sebagian dari iman’’. (HR. Bukhori) "Sesungguhnya malu itu hanya membawa kepada kebaikan." (HR. Bukhori Muslim)

Nahi Munkar adalah suatu tindakan untuk mencegah kemungkaran. Maksudnya apabila kita melihat suatu ketidakberesan, maka wajib meluruskannya baik dengan lisan (menasehati) maupun dengan tindakan menggagalkannya. Tetapi jika kita tidak memiliki keberanian meluruskannya, maka cukuplah melakukannya dalam hati, dan itulah selemah-lemah iman.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa