Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( Bag 3 )
Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( Bag 3 )
Imam Ahmad rhm. berkata, "Inti ilmu adalah rasa takut kepada Allah." Jika seseorang telah mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, dia akan taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dari hati sanubarinya.
Senin, 10 Juni 2013

3. Senantiasa Takut kepada Allah Ta’ala

Allah SWT berfirman, ".... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama ...." (Faathir: 28).

Imam Ahmad rhm. berkata, "Inti ilmu adalah rasa takut kepada Allah."
Jika seseorang telah mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, dia akan taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dari hati sanubarinya. Maka, senantiasa takutlah kepada Allah, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan. Dengan demikian, ilmu itu menuntut untuk diamalkan, karena jika seorang ulama tidak mengamalkan ilmunya, dia akan menjadi orang yang pertama kali dimasukkan ke dalam neraka pada hari kiamat nanti. Seorang ulama yang tidak mengamalkan ilmunya akan diazab sebelum para penyembah berhala. Ini adalah kerugian pertama bagi yang tidak mengamalkan ilmunya.

Orang yang tidak mengamalkan ilmunya juga akan gagal dalam proses belajarnya, ilmunya tidak akan membawa berkah, juga dia akan menjadi lupa, sebagaimana firman Allah Ta’ala, "(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dati tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya ...." (Al-Maa-idah: 13).

Adapun jika seseorang itu mengamalkan ilmunya, maka Allah Ta’ala menambahkan petunjuk baginya, sebagaimana fiaman-Nya, "Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka ...." (Muhammad: 17).

4. Selalu Merasa Diawasi oleh Allah Ta’ala
Hiasilah dirimu dengan merasa selalu mendapatkan pengawasan dari Allah Ta’ala, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Berjalanlah menuju Rabbmu dengan rasa takut dan penuh harapan, karena bagi seorang muslim keduanya bagaikan dua sayap burung, hadapkan dirimu semuanya kepada Allah, penuhilah hatimu dengan rasa cinta kepada-Nya dan lisanmu dengan selalu berdzikir kepada-Nya, serta selalu gembira, senang, suka dengan semua hukum dan hikmah-Nya.

Selalu merasa diawasi oleh Allah adalah buah dari rasa takut kepada-Nya. Jikalau seseorang selalu merasa bersama Allah, dalam beribadah dia akan merasa dilihat oleh Allah, saat ingin mendirikan shalat lalu berwudhu seakan-akan dia menunaikan perintah Allah SWT dalam firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu ...." (Al-Maa-idah: 6).

Dan, seakan-akan dia melihat Rasulullah saw. sedang berwudhu lalu bersabda, "Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini ...." (HR Bukhari dan Muslim). Begitulah kesempurnaan merasa diawasi oleh Allah, dan ini adalah sesuatu yang sangat penting.

Perkataan syaikh: "Hendaklah seseorang itu selalu berjalan antara rasa takut dan penuh harap, karena keduanya bagi seorang muslim semacam dua sayap burung," ini adalah salah satu pendapat para ulama tentang manakah yang lebih utama apakah seseorang itu harus menyatukan antara rasa takut dan harap ataukah mengutamakan rasa takut, ataukah sebaliknya, lebih mengutakaman rasa harap.

Imam Ahmad rhm. berpendapat, "Hendaknya seseorang itu menyatukan antara rasa takut dan harap, kalau salah satu di antara keduanya lebih kuat, akan rusaklah iman orang tersebut."

Sebagian ulama merinci masalah ini, mereka mengatakan, "Apabila engkau ingin melakukan perbuatan ketaatan, utamakan rasa berharap bahwa jika engkau melakukan amalan itu niscaya Allah akan menerimanya dan mengangkat derajatmu. Namun, apabila engkau hendak melaksanakan semua kemaksiatan, maka utamakanlah rasa takut sehingga engkau tidak jadi melakukannya. Nah, atas dasar inilah, maka tentang mana yang diutamakan antara dua hal tersebut adalah tergantung pada keadaan seseorang itu sendiri.

5. Tawadhu’, Rendah Hati, dan Tidak Sombong dan Congkak

Hiasilah dirimu dengan etika-etika jiwa (hati), berupa menjaga kehormatan diri, santun, sabar, rendah hati dalam menerima kebenaran, berperilaku tenang dengan sikap yang berwibawa, teguh serta tawadhu, juga mampu menanggung beban berat selama belajar demi memperoleh kemuliaan ilmu serta bersedia tunduk pada kebenaran.

Oleh karena itu, hidarilah segala perilaku yang akan merusak adab ini, karena disamping mengundang dosa juga akan menunjukkan bahwa ada cacat pada akalmu, serta engkau tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan mampu mengamalkannya. Maka dari itu, jauhilah sikap sombong, karena itu adalah kemunafikan dan sikap takabbur. Dulu para ulama salaf amat sangat keras dalam menjaga diri dari kesombongan.

Adz-Dzahabi dalam biografi ’Amr bin Al-Aswad al-’Ansy rhm. yang wafat pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan rhm., konon apabila beliau keluar dari masjid pasti menggenggamkan tangan kanan pada tangan kirinya. Tatkala beliau ditanya: "Mengapa berbuat begitu?" Beliau menjawab: "Saya khawatir tangan saya ini akan berbuat kemunafikan." Saya berkata, "Beliau menggenggamnya karena takut akan melenggangkan tangannya tatkala sedang berjalan, karena perbuatan itu termasuk kesombongan." (Lihat Siyar A’laaamin Nubalaa’ [IV/80]).

Ini adalah sesuatu yang tidak sengaja dilakukan oleh Al-Ansy rhm., oleh karena itu berhati-hatilah terhadap kesombongan yang merupakan penyakit para diktator. Kelancangan pada gurumu adalah kesombongan, keangkuhanmu pada orang yang telah mengajarkan ilmu kepadamu hanya karena umurnya lebih muda daripada engkau merupakan suatu kesombongan, engkau sembrono tidak mengamalkan ilmumu adalah lumpur kesombongan dan tanda diharamkan ilmu itu darimu. Ilmu itu musuh bagi pemuda yang sombong, seperti aliran air juga musuh bagi tempat yang tinggi.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa