Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( bag 4 )
Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( bag 4 )
Qana’ah adalah sikap paling utama yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu, maksudnya yaitu menerima apa adanya yang diberikan oleh Allah Ta’ala serta tidak menginginkan menjadi orang yang kaya raya. Karena, sebagian para pe
Rabu, 12 Juni 2013

6. Qana’ah (Puas) dan Zuhud
Qana’ah adalah sikap paling utama yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu, maksudnya yaitu menerima apa adanya yang diberikan oleh Allah Ta’ala serta tidak menginginkan menjadi orang yang kaya raya. Karena, sebagian para pelajar ingin mengikuti tren orang-orang kaya, maka akhirnya dia banyak mengeluarkan biaya. Oleh karena itu, hendaklah engkau menjadi orang yang qana’ah karena sifat ini adalah sebaik-baik bekal bagi seorang muslim.

Adapun yang dimaksud zuhud di sini adalah tidak berbuat yang haram serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bisa menjerumuskan pada keharaman dengan cara menahan diri dari segala syubhat, juga tidak menginginkan terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi’i rhm bahwasannya beliau berkata, "Seandainya ada seseorang yang berwasiat agar memberikan sesuatu kepada orang yang paling berakal, maka harus diberikan kepada orang-orang yang zuhud." Menapa demikian, sebab orang yang zuhud adalah orang yang paling berakal, karena mereka menjahui segala yang tidak membawa manfaat bagi akhirat mereka.

Dulu guru kami, Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi (beliau wafat 17/12/1393 H), adalah orang yang sangat zuhud pada urusan dunia. Saya menyaksikan bahwa beliau tidak pernah memiliki lembaran uang dalam jumlah besar. Pernah suatu hari beliau berbicara kepadaku: "Saya datang dari negeri Syinqith dengan membawa modal yang jarang dimiliki orang lain, yaitu rasa qana’ah, seandainya saya menginginkan jabatan, saya akan bisa mencapainya, namun saya tidak akan mementingkan urusan duniaku di atas akhiratku, saya tidak akan menjadikan ilmu ini untuk memperoleh kedudukan duniawi." Semoga Allah mencurahkan kepada beliau keluasan rahmat-Nya.

7. Hiasilah Diri dengan Keindahan Ilmu
Menghiasi diri dengan keindahan ilmu berupa bagusnya budi pekerti, bersikap tenang, berwibawa, khusus, tawadhu, dan senantiasa bersikap istiqamah secara lahir maupun batin, serta tidak melakukan segala yang bisa merusaknya.

Imam Ibnu Sirin berkata, "Dulu para ulama mempelajari budi pekerti sebagaimana mereka mempelajari ilmu." (Diriwayatkan oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam Al-Jaami’ [9]).

Dari Raja’ bin Haiwah, beliau berkata kepada seseorang, "Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits, tetapi jangan sampaikan hadits dari riwayat orang yang pura-pura mati, juga jangan dari orang yang suka mencela." (Diriwayatkan oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam Al-Jaami’ [166] dan Al-’Uqaili dalamAdh-Dhu’afa’ [I/12]). Kedua kisah ini diceritakan oleh Al-Khatib dalam kitab Al-Jami’, lalu beliau berkata,

"Wajib bagi penuntut ilmu hadits untuk menghindari suka bermain, berbuat yang sia-sia dan bersikap rendah dalam majelis ilmu serta tertawa terbahak-bahak, banyak membuat lelucon, suka senantiasa bersenda gurau. Senda gurau itu hanya diperbolehkan kalau dilakukan kadang-kadang saja asal tidak sampai melanggar adab dan sopan santun dalam menuntut ilmu. Adapun kalau dilakukan secara terus-menerus, mengucapkan ucapan kotor, jorok, serta yang bisa menyakitkan hati, semua itu adalah perbuatan tercela. Sebab, banyak senda gurau dan tertawa akan menghilangkan kewibawaan dan harga diri." (Lihat Al-Jaami’ oleh Al-Khathib [I/156]).

Ada sebuah pepatah: "Barang siapa yang banyak melakukan sesuatu, maka dia akan dikenal dengannya." Jauhilah segala perusak ilmu ini, baik dalam majelis maupun dalam setiap pembicaraanmu. Namun, sebagian orang-orang dungu menyangka bahwa bersikap longgar dalam seperti ini adalah sebuah sikap toleransi.

Dari Imam Al-Ahnaf bin Qais, ia berkata, "Jauhkanlah majelis kita dari menyebut-nyebut wanita dan makanan, saya benci seorang laki-laki yang suka membicarakan kemaluan dan perutnya." (Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ [IV/94] dan Faidhul Qadir [I/537]).

Hal ini karena akan bisa mengalihkan perhatian dari menuntut ilmu, semacam kalau berkata, "Tadi malam saya makan sampai kekenyangan." Atau, ucapan sejenis yang tidak ada gunanya sama sekali. Juga berbicara seputar urusan wanita, terlebih lagi kalau ada yang membicarakan hubungan suami istri yang dilakukannya, maka orang semacam ini adalah sejelek-jelek manusia pada hari kiamat dalam pandangan Allah Ta’ala.

Umar bin Khaththab r.a. berkata dalam surat yang ditulisnya kepada Abu Musa al-Asy’ari tentang qadha’: "Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan sesuatu yang tidak dia miliki, maka Allah akan menampakkan keburukannya." (Riwayat Al-Baihaqi [21124], Daruquthni [IV/206], Al-Khathib dalamTarikh Baghdad [X/449], dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq [XXXII/71-72] dari Abu ’Awwam al-Bashri).

Apa pun akhlak yang terdapat pada diri seseorang, meskipun dia sembunyikan dari manusia, pasti akan ketahuan juga. Bagaimanapun usaha manusia untuk menyembunyikannya, Allah pasti mengetahuinya dan akan membongkar kedok orang yang beramal tidak ikhlash untuk-Nya. Maka, jadikanlah ucapan Umar ini untuk menimbang seluruh aktivitasmu.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa