Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri (Bag6)
Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri (Bag6)
Behati-hatilah dalam berpakaian, karena pakaian itu dapat mengungkapkan kepada orang lain mengenai jati diri Anda dalam hal kecenderungan, sikap, dan perasaan. Dari sini ada sebuah ungkapan:
Senin, 17 Juni 2013

10. Menjauhi Kemewahan
Janganlah terus-menerus hanyut dalam kelezatan dan kemewahan, karena kesederhanaan termasuk sebagian dari iman dan ambillah wasiat dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dalam suratnya yang masyhur, di dalamnya tertulis, "Jauhilah oleh kalian hanyut dalam kemewahan, dan senang berhias dengan mode orang asing, bersikaplah dewasa dan berpakaianlah secara sederhana (tidak mewah) ...." (Shahih riwayat Ibnu Hibban [5454], Abu ’Awanah [8514], Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra [X/14] dan dalam Syu’abul Iman [6186], Ahmad dalam Musnad [301], Abu Ya’la [213], dan Ibnul Ja’d dalamMusnad [995] dari hadits Abu Usman an-Nahdi).

Oleh karena itu, hidarilah kepalsuan peradaban modern, karena itu watak (perangai) menjinakkan sikap dan mengendorkan otot serta mengikatmu dengan tali angan-angan. Orang-orang yang bersungguh-sungguh sudah dapat mencapai tujuan, namun engkau masih belum beranjak dari tempatmu, engkau hanya sibuk dengan penampilan pakaianmu. Anggaplah pakaian itu tidak haram juga tidak makruh, namun itu bukan ciri pakaian orang-orang shaleh. Penampilan luar semacam pakaian merupakan tanda kecenderungan hati seseorang, bahkan itulah jati diri yang sebenarnya. Bukankah pakaian sekadar salah satu cara untuk mengungkapkan siapa sebenarnya jati dirinya?

Behati-hatilah dalam berpakaian, karena pakaian itu dapat mengungkapkan kepada orang lain mengenai jati diri Anda dalam hal kecenderungan, sikap, dan perasaan. Dari sini ada sebuah ungkapan: "Penampilan luar menunjukkan kecenderungan hati." Orang lain akan menggolongkanmu dari pakaianmu, bahkan cara engkau berpakaian pun akan memberikan gambaran bagi orang lain bahwa yang memakainya itu memiliki keteguhan dan kecerdasan ataukah ia orang yang ahli ibadah ataukah orang yang glamour dan suka popularitas. Berpakaianlah yang pantas bagimu, jangan membuat orang lain mencelamu, juga jangan membuat orang lain menggunjingmu. Jika pakaianmu serta caramu memakainya sesuai dengan keluhuran ilmu syar’i yang engkau miliki, niscaya itu semua akan lebih membuatmu mulia serta ilmumu lebih bermanfaat, bahkan jika engkau berniat yang baik, maka itu semua akan menjadi amal shaleh karena merupakan wasilah (perantara) untuk bisa memberi hidayah pada orang lain agar menerima kebenaran. Ada sebuah atsar dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab: "Saya lebih senang melihat pembaca Al-Qur’an itu berpakaian putih." (Diriwayatkan oleh Malik [1621]).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan bahwa manusia itu seperti sekumpulan burung terbang yang memiliki watak untuk saling menyerupai satu sama lainnya. Oleh karena itu, hidarilah pakaian kekanak-kanakan. Adapun mengenai pakaian orang-orang kafir, maka hukumnya tidak asing lagi bagimu.

11. Menghindar dari Tempat-Tempat yang Sia-Sia
Janganlah injakkan kakimu di tempat orang-orang yang bergelimang dengan kemungkaran serta merobek-robek tirai kesopanan dengan berpura-pura bodoh terhadap semua itu. Jika engkau melakukannya, maka dosamu pada ilmu dan ulama akan sangat besar.

Allah SWT berfirman, "Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain ...."(An-Nisaa’: 140).

Barang siapa yang duduk di tempat yang ada kemungkarannya, maka wajib atasnya mencegah kemungkaran tersebut. Kalau keadaannya berubah menjadi baik, itulah yang diharapkan; jika tidak, dan bahkan mereka tetap terus-menerus melakukan kemungkarannya, maka wajib untuk menghindarinya. Bukan seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang bahwa saya membenci kemungkaran itu dalam hati sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Maka jika engkau tidak mampu (mencegah kemungkaran dengan tangan dan lisan), maka cegahlah dengan hati." (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban dari hadits Abu Sa’id al-Khudri r.a.). Katakan kepada orang semacam itu: "Seandainya benar engkau membencinya, pasti engkau tidak akan duduk bersama mereka, karena manusia tidak mungkin duduk bersama yang dibencinya, kecuali kalau terpaksa, adapun engkau duduk dengan suka hati, lalu engkau mengaku membencinya, maka pengakuan ini tidak mungkin benar."

12. Hindari Hura-Hura

Jagalah dirimu dari kegaduhan dan hiruk-pikuk, karena kesalahan sering kali disebabkan oleh hiruk-pikuk, dan ini dapat menafikan adab menuntut ilmu.

Hiruk-pikuk yang dimaksud di sini adalah keramaian pasar. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang memperingatkan pergi ke pasar, karena dalam pasar terdapat keributan, cercaan, can makian. Ada sebagian penuntut ilmu yang berkata: "Saya duduk-duduk di pasar untuk melihat apa saja yang terjadi dan diperbuat orang-orang di sana." Kita katakan kepada orang semacam ini: "Ada perbedaan antara sekadar ingin tahu dengan kalau dilakukan terus-menerus." Maksudnya, seandainya disebutkan bahwa di pasar anu ada periwtiwa begini dan begitu, maka tidak mengapa engkau datang untuk mengetahuinya, namun kalau engkau selalu duduk-duduk di pasar setiap waktu, maka ini adalah sebuah kesalahan, karena bisa membuatmu hina, bahkan bisa juga merupakan penghinaan bagi ilmu itu sendiri.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa