Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Wafatnya Penghidup Sastra Yang Menghidupi
Wafatnya Penghidup Sastra Yang Menghidupi
Dari alam kekal tempat beliau kini bertinggal di sisi Tuhan-Nya, Pak Kunto menunggu para penulis muda yang kelak akan meneruskan jejaknya : menulis untuk membangkitkan, membebaskan, mencerahkan, menyatukan manusia dengan harmoni hidup ; menulis untuk menjaga keseimbangan antara khusyuknya hablum minallah dan guyubnya hablum minannaas.
Selasa, 00 0000

Satu minggu sebelum penyematan Anugerah Pena, penghargaan khusus FLP atas pengabdiannya di khazanah sastra Indonesia, Prof. Kuntowijoyo, cendekiawan dan sastrawan muslim itu dipanggil menghadap ke hadirat-Nya. Almarhum meninggal setelah mengidap Meningo Encephalitis (radang selaput otak kecil) sepulang dari studi di negeri Belanda, sejak Januari 1992. Ia pamit dari hadapan khalayak pengagum yang selalu menunggu karya-karya cemerlangnya. Ia mangkat dari hadapan seniman, cendekiawan, tokoh-tokoh bangsa yang kerap menyerap ide dari kreativitas pemikirannya. Ia pergi, meninggalkan keluarga yang selama ini bersaksi atas ketekunan dan loyalitasnya membangun kemaslahatan hidup, melalui : kolom, novel, jurnal, dan cerita-cerita pendeknya yang bernas.

Minat Prof. Kuntowijoyo terhadap dunia penulisan, khususnya sastra, terasah sejak usia dini. Di surau desa Ngawonggo, kecamatan Ceper, Klaten, di sela-sela kegiatan mengaji, ia belajar mendongeng dan deklamasi. Menurut Amien Wangsitalaja dalam artikel Kuntowijoyo Pelopor Sastra Profetik * Dari Surau di Klaten hingga Kampus UGM, ketika itu jarang orang mengetahui, bahwa di surau sederhana itu dua orang sastrawan nasional, M. Saribi Arifin (salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan) dan M. Yusmanam, ikut bergiat mengajari anak-anak dusun. Interaksi antara Pak Kunto - panggilan akrab Prof. Kuntowijoyo - dengan dua sastrawan tersebut, merupakan awal dari ketertarikan serta kecintaannya kepada dunia sastra.

Semasa kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), bakat Pak Kunto berkembang sedemikian pesat. Setelah mendirikan wadah-wadah penggerak kegiatan seni budaya, seperti : LEKSI (Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam) dan Studi Group Mantika, karya-karyanya mulai diapresiasi luas. Cerita pendeknya Rumput-rumput Danau Bento dan Dilarang Mencintai Bunga-bunga, naskah lakonnya Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cardas dan Topeng Kayu, roman pertamanya Pasar, bahkan meraih berbagai penghargaan bergengsi.

Pasca kuliah, Pak Kunto lebih disibukkan oleh tugas-tugasnya sebagai salah seorang tenaga pengajar di almameternya : Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM. Untuk menopang kariernya sebagai staf edukatif, pada tahun 1973 Pak Kunto mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Beliau mendapat gelar MA dari University Of Connecticut (1974) dan PhD dari Columbia University (1980). Sekembalinya dari negeri Paman Sam, ia lebih banyak bergiat dalam kegiatan akademik, forum diskusi, dan berbagai studium generale. Praktis pada masa ini kegiatan bersastranya berkurang. "Sekitar dua puluh tahun (1973-1993) adalah masa "pensiun" saya dari bersastra."ucap beliau pada suatu kali. Memang di rentang waktu tersebut tak ada cerpen atau novel yang beliau hasilkan. Meskipun begitu, kata-kata "pensiun" yang beliau lontarkan itu bisa dianggap sekedar kelakar belaka. Karena justru pada masa-masa itulah ia menulis beberapa puisi, yang kelak diterbitkan oleh Gema Insani Press (1995) dengan tajuk Daun Makrifat Makrifat Daun. Menyusul kumpulan terdahulunya Suluk Awang Uwung (1975) dan Isyarat (1976).

Karena deraan penyakit yang diidapnya sepulang dari Negeri Kincir Angin, Belanda, Pak Kunto baru bisa berkarya kembali pada medio 1993. Cerita-cerita pendeknya kembali tertera pada halaman-halaman lembar seni budaya media cetak terkemuka. Setahun kemudian, kumpulan cerita pendeknya Dilarang Mencintai Bunga-bunga meraih Penghargaan Penulisan Sastra Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Penghargaan demi penghargaanpun kemudian berturut-turut disematkan kepada Pak Kunto, seperti : Penghargaan Kebudayaan ICMI (1995); Cerpen Terbaik KOMPAS (1995, 1996, 1997) untuk cerpen Laki-laki yang Kawin dengan Peri, Pistol Perdamaian, dan Anjing-anjing Menyerbu Kuburan; Asean Award On Cultural (1997); Satya Lencana Kebudayaan RI (1997); Mizan Award (1998); Penghargaan Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999); dan SEA Write Award (1999) dari Pemerintah Thailand.

Dalam kiprahnya sebagai sastrawan muslim yang taat, Pak Kunto dikenal sebagai pelopor genre sastra profetik. Satu konsep penulisan atau penggarapan karya sastrawi, yang dijiwai oleh prinsip-prinsip dan tradisi kerasulan. Konsep itu dibangun dari ide sastra pembebasan, sastra kemanusiaan -yang sebelumnya selalu bertentangan-, ditambah dengan ide sastra transendental yang disisipkan oleh beliau. Penggabungan ketiga konsep tersebut, memungkinkan sebuah teks sastra dapat bergerak diantara fungsi pemeliharaan hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan penguatan hubungan horisontal (dengan sesama manusia). Dengan demikian, sebuah karya sastra berguna pula sebagai alat manusia untuk ber-amar ma'ruf, nahi munkar. "Manusia dituntut untuk ber-amar ma'ruf, nahi munkar. Amar ma'ruf itu memanusiakan manusia, nahi munkar itu membebaskan manusia, dan beriman kepada Tuhan itu transendental. Penjumlahan semua itu menurut Kuntowijoyo menjadi sastra profetik." menurut David Krisna Alka, dalam artikelnya Membangkitkan Kembali Sastra Profetik. Pertentangan antara kutub sastra yang universal-humanistik-emansipatoris-liberal dengan kutub sastra yang relijius-transendental-spiritual, termediasi dalam sastra profetik ini. Output yang diharapkan oleh Pak Kunto dengan pengguliran konsep tersebut adalah sebuah karya proporsional. Tidak terlalu membumi, sehingga manusia tersaputkan dari unsur-unsur ilahiah. Tidak terlalu melangit, sehingga manusia lupa bahwa ia bagian dari manusia lainnya. Sastra profetik, dengan begitu bermaksud merangsang pembacanya untuk selalu eling, selalu berada dalam garis keseimbangan hidup.

Sebagai sejarahwan atau intelektual muslim, Pak Kunto banyak menyumbangkan karya monumental. Beberapa karya tulis monumentalnya yang telah terbit dalam bentuk buku itu diantaranya adalah : Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991), Demokrasi dan Budaya (1994), Pengantar Ilmu Sejarah (1995), Metodologi Sejarah (1994), Radikalisme Petani (1993), Identitas Politik Umat Islam (1997), dan Islam Tanpa Masjid (2002). Dalam Islam Tanpa Masjid, Pak Kunto menyoroti sikap mental kaum intelektual Indonesia pasca reformsi, yang menunjukkan gejala degradasi. Menurut beliau, banyak cendekiawan terjebak dalam pikiran pragmatis, ramai-ramai memposisikan diri sebagai praktisi politik. Beliau berpendapat, janganlah kalangan intelektual telalu terpukau pada persoalan-persoalan politik belaka. Karena proses pendidikan, meskipun memakan waktu lama, hasil akhirnya kelak akan sangat luar biasa. "Banyak orang pintar yang dahulu menjadi alat bantu pembentukan ideologi sebuah rezim, kini tanpa malu-malu mengkritik pemerintahan yang dahulu pernah membesarkan dan melaksanakan konsepnya." ujar Pak Kunto, seperti dikutip Muhammad Subarkah dalam artikelnya Kuntowijoyo. Pengkhianatan intelektual itulah yang sesunguhnya diprihatinkan oleh Pak Kunto dalam berbagai kolom-kolomnya pasca kejatuhan Orde Baru.

Capaian-capaian Pak Kunto dalam lingkup sastra maupun dalam kiprah intelektualnya sebagai cendekiawan muslim, adalah raihan yang luar biasa, mengingat berbagai masterpiece-nya tercipta ketika beliau tengah berjuang menghadapi penyakit akut yang diderita. Indonesia tidak hanya kehilangan sastrawan, seniman, sejarahwan, atau seorang pakar edukatif saja. Lebih dari itu, Indonesia kehilangan tauladan, dari seseorang yang selama ini telah mencontohkan "keshalihan intelektual." Wafatnya Profesor Kuntowijoyo, adalah perginya seseorang "yang telah menghidupi." Ide sastra profetik yang beliau cuatkan, ditengah-tengah merebaknya bacaan atau buku porno-absurd-profan ber-"kulit" karya sastra, kini menunggu tangan-tangan muda yang sedia menghidupi. Dari alam kekal tempat beliau kini bertinggal di sisi Tuhan-Nya, Pak Kunto menunggu para penulis muda yang kelak akan meneruskan jejaknya : menulis untuk membangkitkan, membebaskan, mencerahkan, menyatukan manusia dengan harmoni hidup ; menulis untuk menjaga keseimbangan antara khusyuknya hablum minallah dan guyubnya hablum minannaas.

Selamat jalan, Pak Kunto. Doa kami menyertaimu. Semangat dan tauladanmu 'kan selalu menyertai kami.
 


*Redaktur Pelaksana CyberMQ.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa