Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Pembaca Buku, Kaum Minoritas ?
Pembaca Buku, Kaum Minoritas ?
Saat itu, saat belajar membaca, adalah titik awal seseorang mengenal dunia.
Selasa, 00 0000
Pembaca Buku, Kaum Minoritas ?

PERNAH suatu Sabtu sore yang basah oleh guyuran hujan, kawan saya merasa terjebak dalam bus kota yang sebentar-sebentar bagai mati kutu oleh kemacetan lalu-lintas Bandung. Waktu terus bergerak maju melahap segalanya termasuk bus kota itu yang berpenumpang lumayan padat. Masih untung kawan saya tidak berdiri. Namun kekesalan kawan saya yang tengah mengejar janji itu, katanya, makin membengkak saat melihat seseorang agak di depan sana begitu nyaman membaca buku. Tidak ada kesan keruh di resam wajahnya. Malah orang itu sepertinya menikmati kemacetan kota Bandung. Berbeda sekali dengan orang lain di sekeliling yang dahinya berkerut-kerut—“Seperti saya yang gelisah, tak tahu apa yang harus dikerjakan,” tambahnya, “andai saya juga membawa buku, atau minimal ada tukang koran yang naik, tapi mana mungkin!”

Saya kaget mendengar ceritanya yang amat dramatis itu. Mungkin niat omongannya itu semata berbagi kekesalan. Tapi entah kenapa saya jadi sangat tertarik pada si pembaca buku dalam kisahnya itu; seolah kawan saya itu hendak memulai obrolan kecil soal budaya baca bangsa ini—soal kegemaran bangsa kita pada buku yang tidaklah besar, malah minim sekali, konon begitu.

Serta merta saya teringat kembali, saya pernah merasa agak terguncang oleh sebuah pasase yang ditulis Magdalena Sukartono dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa (Kanisius, 1997:95): “Hanya dengan membacalah seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kecerdasannya. Hanya dengan tulisan orang dapat mencatat berbagai informasi untuk dianalisis dan diteruskan kepada yang lain. Hanya dengan membaca manusia dapat meningkatkan pengetahuannya. Dengan memiliki pengetahuan itulah manusia dapat meningkatkan kualitas hidupnya.”

Sungguh, menurut saya, pendapat itu sangat provokatif, memancing dan menantang kita apakah mau menyetujuinya, atau sebaliknya, menolaknya. Terhadap buku, seakan Magdalena sedang membangun sebentuk oposisi biner: hanya dengan bergumul dengan buku, orang bisa mendapat informasi, meluaskan cakrawala pengetahuannya, menyimpan ide atau gagasannya hingga mengabarkannya pada orang lain; serta hanya pula melalui buku kualitas hidup seseorang bisa dikatrol.

Mungkin lebih mudah mengabaikan saja pendapat itu, sebagai jalan pintas keluar dari diskusi yang menurut saya cukup—malah sangat—menarik ini, meski mungkin sebagian orang berpendapat lain. Karena bila menerimanya, lantas mau tak mau, kita akan diburu pertanyaan lanjutan: apakah kita sudah terbiasa membaca, mencatat, menulis?

BARANGKALI seseorang lupa-lupa ingat pertama kali belajar membaca. Saat berkenalan dengan “Ini ibu Budi” di papan tulis sekolah dasar bagi kebanyakan anak-anak Indonesia. Saat itu, saat belajar membaca, adalah titik awal seseorang mengenal dunia. Setelah pandai dan lancar membaca, ia berkesempatan besar bergaul dengan buku. Buku sebagai jendela tempat ia melongok keluasan dunia di balik helai demi helai halamannya. Juga buku sebagai keranjang besar tempat ia mencari makna atas sejumlah hal. Bahkan lebih jauh lagi, terhadap aktivitas para pembaca dan pencipta teks ini, sering saya tergoda untuk meyakini “butterfly effect”-nya (efek kupu-kupu, yang mengimani bahwa gerakan sekecil apa pun di alam ini memiliki dampak pada semesta), yang barangkali sedari awal tidak terpikirkan oleh mereka. Seperti ternyata mereka, para pecinta teks (buku, atau apa pun rupanya), dapat berperan dalam mengubah sejarah, atau setidaknya mereka bisa ikut memelihara ingatan bersama sebagai bagian dari suatu komunitas, masyarakat, bangsa, bahkan seluruh umat manusia.

Mungkin “keyakinan” saya ini agak berlebihan dan tak mudah dibuktikan. Namun begini, sebuah buku menyimpan banyak sekali pemikiran, gagasan, dan pengetahuan. Menurut Anwar Holid pada Matabaca Vol. 2 /No. 7/Maret 2004, seorang pembaca yang sungguh-sungguh, pasti bisa menemukan kesemuanya itu. Lantas tidak dibiarkan begitu saja, tapi segala yang telah bercampur-padu dalam kepalanya itu akan dipelihara, dipertajam, diperkukuh, diperjelas, diperluas olehnya. Sementara yang meragukan disiangi, dibenamkan, disingkirkan, dihancurkan. Lama kelamaan pikiran, gagasan, idealisme itu menyebar, melebar, menguat, menajam, menemukan medannya di kehidupan sehari-hari, terutama jika dipelihara lagi di suatu komunitas yang secara kondusif menyuburkan dan mengkritiskan pemikiran.

Kaitan kegiatan baca-tulis (terutama menulis) dengan sifat kritis, menurut seorang guru besar UPI, Chaedar Alwasilah, pada kolom opini Pikiran Rakyat (12 Maret 2005), “Secara individual, seorang yang produktif menulis akan lebih kritis daripada yang tidak produktif ... Saat menulislah kita sadar terhadap apa yang kita ketahui dan ingin kita ungkapkan. Inilah yang disebut meaning making atau proses mengikat makna. Kesadaran seperti ini merupakan indikator kemampuan berpikir kritis.” Dan dapat ditebak, lebih lanjut Chaedar menyinggung juga budaya omong-dengar bangsa kita yang lebih kental, kuat, dan dominan dari budaya baca-tulisnya, “Bagi masyarakat Indonesia, komunikasi cenderung disinonimkan dengan komunikasi lisan yang tantangan nalarnya tidak secanggih komunikasi tulis. Secara kolektif, bangsa yang lemah budaya tulisnya cenderung lemah daya nalarnya.”

***

PADA 14 Oktober 1981, empat mahasiswa Universitas Indonesia dipecat rektor mereka. Alasannya karena mengundang Pramoedya sebagai salah satu pembicara dalam sebuah diskusi di dalam kampus, 24 September 1981. Yang tentu saja mendapat “bonus” penahanan di luar hukum berupa siksaan aparat militer. Tujuh tahun kemudian, tiga pemuda di Yogyakarta ditangkap, ditahan, disiksa sebelum diadili, kemudian divonis berat dengan tuduhan subversi. Alasannya juga tidak jauh berbeda dengan rekan mereka di Jakarta: memiliki, membaca, mendiskusikan, dan mengedarkan beberapa novel karya Pramoedya. Mereka dihukum penjara antara tujuh hingga delapan setengah tahun pada usia mereka belum lagi 30 tahun (1000 Tahun Nusantara, Editor: J.B. Kristanto, Penerbit Buku Kompas, 2000: 545-546).

Kenyataan suram itu ialah salah satu saja bukti bahwa buku, penulis, dan para pembacanya, terlebih yang frontal menyuarakan realitas, mengabarkan teguh kebenaran yang diyakininya, dapat begitu ditakuti oleh sebuah rezim yang pernah lama berkuasa di negeri ini. Kini, masa-masa itu, kala kegiatan diskusi, menulis, dan membaca buku dilarang—yang membunuh aktualisasi potensi kreativitas golongan muda, telah berlalu. Peluang untuk berpikir kritis sekaligus menularkannya pada orang lain, meniti jalan guna memecahkan (mitos?) dominasi budaya omong-dengar kita, sekarang nampak lebih besar.

Tapi kesempatan ternyata bukan segalanya, sebab pasca bergulirnya masa kebebasan unjuk-suara di negeri ini, sebut saja, yang lebih cepat memanfaatkannya adalah koran-koran kuning yang memuat tulisan dan foto-foto “panas”, yang pasti hanya mengutamakan kesenangan banal dan profan; atau paling banter, tabloid-tabloid gosip yang gemar mengusik rahasia dapur para selebritis.

Mungkin itulah sisi buruk manusia, yang memang bakal selalu ada. Seperti menyangkut juga aktivitas membaca, bukankah yang terlibat kasus korupsi (atau kejahatan lain, sekecil atau sebesar apa pun) ialah tidak sedikit mereka yang mengaku beriman, beragama, yang tentu saja tidak mungkin belum pernah membaca kitab suci? Wallahu’alam.

Namun bila begitu, benarlah mereka, para pembaca buku—atau apa pun rupa teksnya—yang sungguh-sungguh bisa “membaca” adalah kaum minoritas di negeri ini? Apalagi, tanpa hendak terlalu jauh terpuruk pada deretan keluh kesah yang pasti akan panjang, ternyata bagi orang Indonesia kebanyakan buku masih berupa barang mewah. Salah satu sebab utama: harganya masih terbilang mahal—apalagi untuk buku yang benar-benar bermutu.

***

KEMBALI pada cerita kawan saya di muka tadi, apakah pengalamannya itu merupakan sebentuk pembenaran lagi, bahwa pembaca buku adalah kaum minoritas di negeri kita? Tentu beberapa puluh orang dalam sebuah bus kota yang terjebak kemacetan lalu-lintas Bandung, dan sedang diguyur hujan pula, tidak bisa mewakili keseluruhan bangsa kita. Tapi, kalau kata dosen saya, cobalah amati orang-orang Jepang bila Anda punya kesempatan main ke sana. Dalam kereta atau bus, bila tidak sedang berbincang dengan kawan sebelah duduknya, atau tengah terpejam karena lelah beraktivitas, mereka akan asyik larut pada buku yang merekah di tangannya, minimal membaca novel untuk membunuh rasa jenuh. Bisa benar, bisa juga keliru. Yang jelas, orang Jepang atau minimal Anda yang pernah pergi ke Jepang pasti lebih tahu.


Bandung, 30 Mei 2005







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa