Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Menumbuhkan Daya Saring Anak Terhadap Media
Menumbuhkan Daya Saring Anak Terhadap Media
Dalam interaksi tersebut, kita bisa menerangkan dan menjelaskan apakah tayangan yang anak tonton boleh atau tidak.
Selasa, 00 0000
Menumbuhkan Daya Saring Anak Terhadap Media

Harus kita akui televisi kini merupakan media yang paling dekat dan mudah untuk diakses setiap keluarga. Namun, sayangnya tayangan yang ditampilkan media TV kita lebih banyak bersifat hiburan, bahkan cenderung merusak pola pikir dan tingkah laku masyarakat.

Anak sebagai sosok yang belum dewasa dan belum bisa memilah bagian mana yang layak ditonton dan pada bagian mana yang layak ditinggalkan, menjadi korban paling utama dari tayangan yang tidak mendidik. Lihatlah data dari LSF (Lembaga Sensor Film) yang mengindikasikan tayangan bermuatan pornografi di film termasuk kemudian yang ditayangkan televisi, cenderung meningkat tajam. Pada tahun 2003 LSF mensensor 85.519 detik adegan asusila dari 2.021 judul. Pada tahun 2004 LSF telah menyensor 103.314 detik dari 2.132 judul.

Ditengah carut marutnya kondisi tersebut, dan perjuangan anggota DPR Komisi VIII yang cukup melelahkan, pemerintah masih saja belum mengesahkan RUU tentang anti pronografi dan pornoaksi. Padahal hal tersebut dibutuhkan sebagai gawang untuk menyaring tayangan atau media yang merusak moral kita dan generasi anak–anak kita. Apakah mereka tidak mau mempunyai generasi yang tangguh, kokoh, sehat berfikir dan menjadi generasi yang kelak memimpin negeri ini dengan baik?

Akankah kita berharap kepada televisi swasta dan berbagai media untuk mengasihani anak negeri yang teracuni oleh tayangan kekerasan dan adegan berbau pornografi? Jelas tidak mungkin, karena mereka cenderung lebih mengedepankan keuntungan bersifat hiburan daripada membuat tayangan yang mencerdaskan penonton.

Dengan gambaran di atas, kita pun tidak lantas meratapi keadaan dan menyalahkan pemerintah yang tidak peka terhadap kekhawatiran rakyatnya.

Dalam kondisi yang seperti ini, di tengah ketidakpastian kapan RUU tersebut disahkan sebagai sarana untuk membentengi masyarakat. kita pun harus berharap kepada usaha diri kita sendiri. Secara tegas kita harus membatasi anak dalam menonton televisi. Namun, kadang kita berbenturan dengan bagaimana jika anak kita menyaksikan tayangan yang tidak pantas di luar rumah? Solusinya adalah kita harus menjadi teman bagi anak kita. Agar dia bisa menceritakan semua aktifitasnya yang tidak kita ketahui secara detail. Kita harus rajin berdialog dan mendengarkan semua ceritanya dengan seksama. Jika ada cerita dari anak yang mengatakan dia telah meononton di rumah temannya. Kita bisa bertanya, cerita apa sih nak? Ibu mau tahu lho, mungkin ibu belum pernah nonton tuh.

Dalam interaksi tersebut, kita bisa menerangkan dan menjelaskan apakah tayangan yang anak tonton boleh atau tidak. Kita selaku orang tua mempunyai kewajiban untuk menjelaskan kepada anak bahwa tempat menonton acara yang disukainya adalah rumah sendiri bukan rumah teman. jangan sampai kita memarahi dan menghakimi anak. Janga disalahkan jika suatu waktu anak menyaksikan hal yang tidak diinginkan, melainkan kondisi lingkungan kital yang sudah sedemikian parah, hingga tayangan media berbau pornografi dapat mudah kina nikmati.

Terkadang saya sering memberikan nasihat kepada anak saya agar menjauhi televisi dan lebih dekat terhadap buku. Saya sering mengatakan televisi itu membuat kita malas, keras dan gampang marah.

Mungkin nasihat itu tidak semuanya benar, namun saya merasa itulah yang sementara bisa saya lakukan, di tengah ketidakberdayaan saya menentang arus pronografi yang demikian deras. Saya ingin menyelamatkan moralnya semampu yang saya bisa. Lain halnya jika suatu saat televisi menjadi tayangan mendidik, mungkin saya akan meninjau ulang nasihat tersebut.

Alasan saya melarang anak saya jangan terlalu sering menonton televisi mempunyai beberapa pertimbangan. Pernah suatu saat saya sengaja melihat acara sinetron khas
Indonesia. Ketika adegan anak membentak ibunya  dengan mata melotot dan ekspresi marah, maka saya bertanya kepada sang buah hati  Senangkah kamu seorang anak membentak ibunya?. Selain itu ada pula adegan adegan anak sekolah mengejek teman sekelasnya dengan perkataan yang tidak pantas, maka saya berdiskusi dengan anak saya. “Kamu sedih jika diejek teman? Sedapat mungkin dalam komunikasi tersebut saya masukan nilai–nilai agar dia bisa memanfaatkan televisi secara bijak dan tepat.

Hal itu tidak saja saya lakukan untuk anak saya semata, tetapi terhadap teman–temannya yang datang bermain ke rumah. Saya berusaha menyempatkan berbicara dengan mereka, bermain bersama dan tidak lupa menyelipkan ajakan untuk tidak menonton sembarangan.

Walaupun cerita tersebut di atas bukanlah satu–satunya cara, namun saya berharap setidaknya kita mulai berusaha menanamkan daya saring kepada buah hati kita. Dengan begitu, semoga fitrah suci yang di anugerahkan Allah kepada semua anak dapat berjalan dengan baik. Akhirnya kita berharap semoga anak-nak kita dapat memutuskan untuk menghindari tayangan yang tidak layak ditonton

 

 

 







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa