Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( Bag 2 )
Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( Bag 2 )
Setiap penuntut ilmu hendaklah mengikuti jalan yang ditempuh oleh para salafush shaleh dari kalangan para sahabat serta orang-orang setelah mereka yang mengikuti jejak mereka dalam semua masalah agama,
Jum'at, 07 Juni 2013

2. Ikutilah Jalan Salafush Shaleh

Setiap penuntut ilmu hendaklah mengikuti jalan yang ditempuh oleh para salafush shaleh dari kalangan para sahabat serta orang-orang setelah mereka yang mengikuti jejak mereka dalam semua masalah agama, mulai dari masalah tauhid, ibadah, dan selainnya. Tetaplah konsisten untuk mengikuti Sunnah Rasulullah saw. dan merealisasikannya dalam kehidupanmu dan jauhilah perdebatan, jauhilah mempelajari ilmu kalam (filsafat), serta jauhilah segala hal yang mendatangkan dosa dan menjauhkan dari syariat Allah Ta’ala.

Ini adalah masalah yang sangat penting. Seseorang harus mengikuti jejak salafush shaleh pada semua permasalahan agama, mulai dari masalah tauhid, ibadah, muamalah, dan sebagainya. Juga, harus meninggalkan perdebatan, karena perdebatan adalah pintu yang menutupi jalan kebenaran, dikarenakan seseorang yang berdebat akan banyak berbicara dan hanya untuk membela diri saja. Sehingga, seandainya sudah jelas baginya suatu kebenaran namun tetap menolaknya, atau membawanya kepada penafsiran yang munkar demi membela diri dan memaksa lawan debat untuk menerima pendapatnya. Maka, jika engkau menjumpai lawan debatmu masih terus membangkang, padahal sebenarnya sudah nampak kebenaran itu, maka jauhilah dia.

Selain menjauhi perdebatan, mempelajari ilmu kalam juga membuang-buang waktu, karena ilmu ini membahas sesuatu yang sangat amat jelas. Pernah suatu hari saya mengajar, ada seorang murid yang bertanya, "Apakah akal itu?" Lalu dia menerangkan kepadaku definisi akal secara bahasa, istilah, adat kebiasaan, dan syar’i. Ini adalah sesuatu yang tidak punya definisi, namun ilmu kalam memasukkan hal-hal itu kepada kita. Kita dengar ada yang bertanya, "Apakah akal itu?" Subhanallah!

Yang jelas bahwa orang yang duduk termenung memikirkan apa definisi akal telah menjadi gila, karena ini adalah sesuatu yang tidak butuh didefinisikan. Ahli kalam menghalangi manusia dari mempelajari kebenaran dan manhaj salaf yang mudah dengan segala subhat, berbagai definisi, batasan, dan lainnya. Lihatlah ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tatkala membantah orang-orang ahli manthiq (jilid ke-9 dan ke-10 Majmuu’ Fataawa), niscaya akan jelas perkara ini bagimu, atau lihatlah kitabNaqdhul Manthiq. Kitab ini lebih ringkas dan lebih bisa dipahami oleh para penuntut ilmu, niscaya akan jelas bagimu kesesatan mereka. Apakah yang menjadikan para ulama menakwilkan ayat-ayat tentang sifat Allah? Tidak lain adalah ilmu kalam. Mereka mempersembahkan kepadamu ilmu yang hanya akan menyesatkanmu, meskipun mereka menyangka memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Berakata Imam Adz-Dzahabi (lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ [XVI/57]): "Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Imam Ad-Daruquthni bahwasanya beliau berkata: ’Tidak ada sesuatu yang lebih saya benci melebihi ilmu kalam.’ Saya (Adz-Dzahabi) berkata: ’Padahal beliau sama sekali belum pernah belajar ilmu kalam, juga ilmu perdebatan, serta belum pernah mendalaminya, akan tetapi beliau adalah seorang salafi.’."

Beliau sangat membenci ilmu kalam karena memang ilmu ini mempunyai banyak pengaruh negatif: memperpanjang sebuah permasalahan tanpa ada faidahnya, membuat ragu sesuatu yang sudah pasti, menggoncangkan akal pikiran, serta menolak Sunnah. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa tidak ada yang paling membahayakan aqidah umat Islam dari ilmu kalam dan manthiq. Dari sini, maka banyak tokoh-tokoh kaliber ilmu kalam yang pada akhir hayatnya mengakui bahwasannya mereka kembali kepada aqidahnya orang-orang awam, juga kembali kepada fitrahnya setelah mengetahui keruskaan ilmu kalam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Al-Fataawa al-Hamawiyah (Majmuu’ Fataawa [V/118]): "Kebanyakan orang yang dikhawatirkan menjadi sesat adalah orang yang masih sedang-sedang dalam mempelajari ilmu kalam, karena orang yang sama sekali tidak pernah mempelajarinya akan selamat dari bahayanya, sedangkan orang yang mencapai puncaknya ilmu kalam pasti akan mengetahui kerusakan dan kebathilannya, maka dia akan bertaubat."

Ilmu kalam ini sangat berbahaya karena berhubungan dengan Sifat dan Dzat Allah, menolak nash dan menuhankan akal. Mereka memiliki prinsip yang bertentangan dengan apa yang ditempuh para salaf. Prinsip atau kaidah-kaidah yang mereka gunakan sama sakali tidak berdasar, mereka sesat dan menyesatkan, mereka juga ragu-ragu dan bingung. Oleh karena itu, orang yang paling bingung pada akhir hayatnya adalah para ulama kalam. Mereka mengutak-atik apakah Allah itu benda konkret atau abstrak, apakah Dia berdiri sendiri atau butuh lainnya, apakah Allah berbuat atau tidak, dan begitu seterusnya sampai saat kematian menjemput dia masih ragu-ragu. Kita memohon kepada Allah semoga selamat dari bencana ini.

Adapun jika jalan yang ditempuh adalah jalan ulama salaf, maka urusannya akan menjadi mudah dan hatinya tidak akan terhinggapi penyakit bingung dan ragu-ragu. Mereka Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengikuti Sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang dikatakan oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyah: "Ahlus Sunnah adalah umat Islam yang bersih dan sebaik-baik manusia bagi manusia lainnya." (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah [V/158]).

Maka, tetaplah mengikuti jalan ini dan jangan mengikuti jalan-jalan lainnya yang akan memisahkan kalian dari jalan Allah. ".... Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya ...." (Al-An’aam: 153).







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa