Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Muamalah » » Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( bag 5 )
Adab Seorang Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri ( bag 5 )
Selalu berhias dengan muru-ah serta segala yang bisa membawamu kepada muru-ah dengan selalu berakhlak mulia, berwajah manis saat bertemu, menyebarkan salam, menolong orang lain, tegas tanpa sombong, gagah berani tanpa kedikta
Jum'at, 14 Juni 2013

8. Berhiaslah dengan Muru-ah (Kehormatan/Kesatriaan)
Selalu berhias dengan muru-ah serta segala yang bisa membawamu kepada muru-ah dengan selalu berakhlak mulia, berwajah manis saat bertemu, menyebarkan salam, menolong orang lain, tegas tanpa sombong, gagah berani tanpa kediktatoran, bersikap kesatria tanpa harus fanatik golongan dan punya semangat yang menggelora tanpa harus seperti orang-orang jahiliah.

Muru-ah adalah melakukan segala perbuatan yang bisa membuatnya terhormat serta menjahui segala perbuatan yang bisa merendahkan martabatnya. Hal ini bersifat umum. Bahwasannya segala sesuatu yang bisa membuatnya terhormat dalam pandangan orang lain serta membuat orang lain akan memujinya adalah sifat muru-ah meskipun bukan sebuah perkara ibadah, dan segala sesuatu yang merupakan kebalikan dari perbuatan tersebut berarti lawan dari muru-ah.

Maka, hindarilah hal-hal yang dapat merusak kehormatan, baik dalam watak (perangai), perkataan, perbuatan, dan juga sikap yang rendah dan jelek lainnya seperti ujub (berbangga diri), riya, sombong, takabur, meremehkan orang lain, serta mengunjungi tempat-tempat yang kotor penuh meragukan.

9. Bersikap Kesatria

Milikilah sifat kesatria, berupa keberanian, tegas dalam mengatakan kebenaran, berakhlak mulia, berkorban demi kebaikan agar engkau disegani oleh orang lain, dan jauhilah sifat-sifat yang sebaliknya, berupa tidak tabah, tidak sabar, tidak bermoral. Karena, itu akan menghanurkan ilmu dan menyebabkan lisanmu tidak mau mengatakan sebuah kebenaran, yang berakibat pada pertikaian pada saat tersebarnya racun-racun di antara hamba Allah yang shaleh.

Ada ungkapan yang indah dari seorang penyair, Al-Mutanabbi, "Barpikir harus didahulukan sebelum keberanian para kesatria. Yang pertama adalah berpikir dahulu, baru yang kedua mengambil sikap berani. Apabila kedua sifat ini ada pada seorang yang merdeka, maka akan bisa mencapai cita-cita yang tertinggi."

10. Menjauhi Kemewahan
Janganlah terus-menerus hanyut dalam kelezatan dan kemewahan, karena kesederhanaan termasuk sebagian dari iman dan ambillah wasiat dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dalam suratnya yang masyhur, di dalamnya tertulis, "Jauhilah oleh kalian hanyut dalam kemewahan, dan senang berhias dengan mode orang asing, bersikaplah dewasa dan berpakaianlah secara sederhana (tidak mewah) ...." (Shahih riwayat Ibnu Hibban [5454], Abu ’Awanah [8514], Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra [X/14] dan dalam Syu’abul Iman [6186], Ahmad dalam Musnad [301], Abu Ya’la [213], dan Ibnul Ja’d dalamMusnad [995] dari hadits Abu Usman an-Nahdi).

Oleh karena itu, hidarilah kepalsuan peradaban modern, karena itu watak (perangai) menjinakkan sikap dan mengendorkan otot serta mengikatmu dengan tali angan-angan. Orang-orang yang bersungguh-sungguh sudah dapat mencapai tujuan, namun engkau masih belum beranjak dari tempatmu, engkau hanya sibuk dengan penampilan pakaianmu. Anggaplah pakaian itu tidak haram juga tidak makruh, namun itu bukan ciri pakaian orang-orang shaleh. Penampilan luar semacam pakaian merupakan tanda kecenderungan hati seseorang, bahkan itulah jati diri yang sebenarnya. Bukankah pakaian sekadar salah satu cara untuk mengungkapkan siapa sebenarnya jati dirinya?

Behari-hatilah dalam berpakaian, karena pakaian itu dapat mengungkapkan kepada orang lain mengenai jati diri Anda dalam hal kecenderungan, sikap, dan perasaan. Dari sini ada sebuah ungkapan: "Penampilan luar menunjukkan kecenderungan hati." Orang lain akan menggolongkanmu dari pakaianmu, bahkan cara engkau berpakaian pun akan memberikan gambaran bagi orang lain bahwa yang memakainya itu memiliki keteguhan dan kecerdasan ataukah ia orang yang ahli ibadah ataukah orang yang glamour dan suka popularitas.

Berpakaianlah yang pantas bagimu, jangan membuat orang lain mencelamu, juga jangan membuat orang lain menggunjingmu. Jika pakaianmu serta caramu memakainya sesuai dengan keluhuran ilmu syar’i yang engkau miliki, niscaya itu semua akan lebih membuatmu mulia serta ilmumu lebih bermanfaat, bahkan jika engkau berniat yang baik, maka itu semua akan menjadi amal shaleh karena merupakan wasilah (perantara) untuk bisa memberi hidayah pada orang lain agar menerima kebenaran. Ada sebuah atsar dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab: "Saya lebih senang melihat pembaca Al-Qur’an itu berpakaian putih." (Diriwayatkan oleh Malik [1621]).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan bahwa manusia itu seperti sekumpulan burung terbang yang memiliki watak untuk saling menyerupai satu sama lainnya. Oleh karena itu, hidarilah pakaian kekanak-kanakan. Adapun mengenai pakaian orang-orang kafir, maka hukumnya tidak asing lagi bagimu.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa