Selain Malaikat, Allah
SWT juga menciptakan makhluk gaib yang
bernama jin. Di antara golongan jin ada yang dinamakan iblis dan setan.
Allah SWT berfirman, "Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ’Sujudlah kamu kepada
Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali iblis. Dia adalah dari (golongan) jin,
maka dia mendurhakai perintah Tuhannya." (QS. 18/Al-Kahfi: 50)
Jin
Kata Al-Jin diambil dari kata Al-Ijtinan, yang bermakna As-Satr (tirai atau penutup). Maksudnya, mahluk
halus yang tersembunyi. Tidak tampak oleh indra penglihatan manusia.
Jin memiliki ilmu pengetahuan yang lebih luas,
dengan jumlah lebih banyak, dan berusia lebih panjang dari manusia. Tempat
hidup mahluk ini berbeda-beda. Mereka ada yang hidup di air, di udara, dan di
bawah bumi. Nabi Muhammad saw. bersabda: "Jin itu terdiri dari tiga golongan. Segolongan
memiliki sayap yang bisa terbang di angkasa, segolongan berwujud ular, dan
segolongan lagi yang tempat tinggalnya berpindah-pindah." (HR. Thobroni).
Allah SWT
menciptakan Jin lebih dulu, sebelum menciptakan manusia. "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum Adam
dari api yang sangat panas." (QS. 15/Al-Hijr: 27). Jin diciptakan dari api "Dia menciptakan manusia dari tanah kering
seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap." (QS. 55/Ar-Rohman: 15)
Jin ini juga memiliki beberapa persamaan dengan
manusia.
-
Jin juga
diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. "Aku tidak mencintakan jin dan manusia, melainkan supaya
mereka beribadah kepada-Ku." (QS. 51/Adz-Dzariyat: 56).
- Di antara jin
juga ada yang mau mendengarkan Al-Qur’an "Katakanlah (Muhammad): Telah diwahyukan
kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan Al-Qur’an), lalu mereka berkata: ’Kami telah mendengarkan bacaan yang
menakjubkan (Al-
Qur’an)’." (QS. 72/Al-Jin: 1)
- Di antara Jin
juga ada yang kafir dan ada yang beriman. "Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh
dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda." (QS. 72/Al- Jin: 11)
- Jin berkerumun
menyaksikan Nabi Muhammad saw. beribadah. "Dan sesungguhnya tatkala hamba Allah
(Muhammad) berdiri menyembah-Nya, (melaksanakan sholat) mereka (jin-jin)
berdesakan mengerumuninya." (QS. 72/Al-Jin: 19)
Jenis (bangsa) jin menurut Sayyid Abdullah Husein dalam bukunya, Menyingkap
Rahasia Jin, Setan dan Malaikat, dapat dibagi sebagai berikut:
- Iblis, yaitu bapak dari segala jin
- Asy-Syaithon, yaitu setan.
- Al-Maroddah, yaitu peragu.
- Al-’Afarit, yaitu ’Ifrit (penipu).
- Al-A’wan, yaitu para khodam (penolong)
- Al-Ghowwashun, yaitu penyelam.
- Ath-Thoyyarun, yaitu penerbang.
- At-Tawabi, yaitu pengikut (pengekor)
- Al-Qoma, yaitu kawan (yang mengawani)
- Al-’Amar, yaitu pemakmur (golongan yang meramaikan).
Dari sepuluh golongan jin di atas, hanya dua di
antaranya yang dapat diterangkan agak rinci, yaitu: Al-’Afarit atau Ifrit (penipu), dan setan. Untuk
setan kami uraikan dalam sub judul tersendiri.
Ifrit adalah golongan
jin yang terkenal pandai menipu, licik akalnya, dan berhati busuk terhadap
manusia. Golongan ini dikaruniai Allah SWT kegagahan dan kekuatan. Dalam Al-Qur’an digambarkan tentang jin Ifrit yang menjawab tantangan Nabi Sulaiman as.
untuk mengambil istana Ratu Bilqis. Berkata ‘Ifrit dari golongan jin, "Akulah yang
akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu. Dan
sungguh aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya." (QS. 27/An-Naml: 39)
Hanya sekali di ayat itulah jin Tfrit disebutkan di
dalam Al- Qur`an. Tentang takdirnya sebagai penipu yang selalu
menganggu manusia diterangkan dalam hadits. Nabi Muhammad Rosulullah saw.
bersabda, "Sesungguhnya
jin `Ifrit telah menggangguku (melintas di hadapanku) semalam, untuk memutuskan
sholatku. Lalu Allah meneguhkan aku. Hampir aku menambatkannya di sebuah tiang
di antara tiang-tiang masjid, sehingga kalian (para sahabat) pagi-pagi
menyaksikannya. (Saat itu) aku menyebut perkataan saudaraku, Nabi Sulaiman as.:
`wahai Tuhanku, ampunilah aku. Dan karuniakanlah kepadaku kerajaan (yang
meliputi seluruh golongan manusia, jin, dan binatang) yang tidak akan diperoleh
seorang pun sesudahku`." (HR.
Bukhori)