Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Tauhid » Kitab-Kitab Islam » An-Naml (semut)
An-Naml (semut)
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan takjub atas keteraturan kerajaan semut itu. Beliau juga mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan nikmat kepada..
Senin, 06 Februari 2012
Tulisan Terkait

27. An-Naml (semut), surat Makkiyah, 93 ayat

Penamaan An Naml, diambil dari kata "An Naml" (semut) pada ayat 18 dan 19, di mana raja semut menyuruh anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya tidak terinjak Nabi Sulaiman as. dan tentaranya yang akan melewati tempat itu. Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan takjub atas keteraturan kerajaan semut itu. Beliau juga mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan nikmat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung, dan sebagainya. Nabi Sulaiman as. yang telah diberi Allah nikmat yang besar itu tidak takabur dan sombong. Dan sebagai seorang hamba Allah, ia memohon agar Allah memasukkannya kepada golongan orang-orang yang saleh.

Allah SWT menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu. Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat lobang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin. Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, dinyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terinjak oleh Nabi Sulaiman as. dan tentaranya, setelah mendapat peringatan dari rajanya. Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan sebagainya. Rakyat semut memiliki organisasi dan kerja sama yang baik pula.

28. Al-Qoshosh (cerita), surat Makkiyah, 88 ayat

Nama Al-Qoshosh, diambil dari kata "Al-Qoshosh" pada ayat 25, yang berarti "cerita". Ayat ini menerangkan, setelah Nabi Musa as. bertemu dengan Nabi Syu’aib as. ia mengisahkan cerita yang berhubungan dengan dirinya sendiri, yakni pengalamannya dengan Fir’aun karena membunuh seorang dari bangsa Qibti tanpa disengaja. Syu’aib as. menjawab bahwa Musa as. telah selamat dari pengejaran orang-orang zalim.

Turunnya ayat 25 ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad saw. dan para sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamiah yang menang, sebab ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang berhijrah (berpindah) dari tempat musuh untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam perjuangannya menghadapi musuh-musuh agama. Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin itu ditegaskan pada


bagian akhir surat ini yang mengandung isyarat bahwa setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang dan penegak agama Allah.

Surat Al-Qoshosh ini adalah surat yang paling lengkap memuat cerita Nabi Musa as., sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai pula surat Musa.

29.   Al-’Ankabut (laba-laba), surat Makkiyah, 69 ayat

Nama Al-’Ankabut diambil dari kata "Al-’Ankabut" yang terdapat pada ayat 41, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala itu, dengan laba-laba yang percaya pada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat menjerat mangsanya. Padahal kalau dihembus an gin dan ditimpa oleh sesuatu yang kecil saja, rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sesembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka inginkan, padahal sesembahan mereka itu tidak mampu sedikit pun menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Luth, kaum Syu’aib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sesembahan mereka pasti tidak bisa melindungi mereka.

30.   Ar-Rum (bangsa Romawi), surat Makkiyah, 60 ayat

Dinamakan Ar-Rum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2,3, dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Romawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia.

Ini adalah salah satu mukjizat Al-Qur’an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi pada masa mendatang. Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemahnya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin. Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa