Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Tauhid » Tauhiid » Jabariyah
Jabariyah
Aliran Jabariyah lahir di Khurosan. Aliran ini mengajarkan paham, bahwa manusia tidak memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu dan tidak memiliki kemauan. Dengan kata lain, segala kemauan dan perbuatan manusia sesungguhnya....
Rabu, 21 Maret 2012
Tulisan Terkait

Jabariyah

Aliran Jabariyah lahir di Khurosan. Aliran ini mengajarkan paham, bahwa manusia tidak memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu dan tidak memiliki kemauan. Dengan kata lain, segala kemauan dan perbuatan manusia sesungguhnya kehendak Allah SWT, namun manusia tetap menerima konsekuensi - pahala atau siksa - atas perbuatannya. Dengan demikian paham aliran ini bertolak belakang dengan paham Qodariyah..

Ajaran lain yang diosebarkan oleh Aliran Jabariyah, antara lain:

  • Qur’an adalah makhluk sebagaimana yang lain, yang fana dan tidak abadi;
  • di akhirat kelak, Tuhan tidak dapat dilihat; dan
  • neraka dan surga itu tidak abadi.

Pelopor aliran Jabariyah, ialah Tsalut Ibnu ’ashom. Aliran ini kemudian berkembang luas berkat Jahm bin Shofwan, seorang Persia yang menjadi pegawai Syuroih bin al-Harits dari kelompok bendera hitam yang memberontak kepada pemerintahan Bani Umaiyah. Jahm bin Shofwan akhirnya tertangkap dan dihukum mati dalam perlawanan terhadap Bani Umaiyah tahun 131 H.

Pengikut aliran Jabariyah terbagi dalam dua kelompok. Pertama, kelompok ekstrem yang termasuk di dalamnya Jahm bin Shofwan. Kedua, kelompok moderat, di antaranya, Dhiror bin Amru, Hafaz al-Fardi, dan Husein bin Najjar.

Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah (artinya memisahkan diri) muncul di Basroh, Irak, pada abad kedua Hijriyah. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atho (700-750M/80-131H) memisahkan diri dari gurunya, Imam Hasan al-Basri karena perbedaan pendapat antara keduanya.

Wasil bin Atho berpendapat, bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar, statusnya tidak mukmin lagi namun tidak juga kafir yang berarti fasik. Sebaliknya menurut Imam Hasan al-Basri, mukmin yang melakukan dosa besar statusnya tetap mukmin.

Mu’tazilah memiliki lima ajaran pokok.

  1. Tauhid - keesaan Allah SWT. Dalam hal ini Mu’tazilah berpendapat, antara lain bahwa :
    • Tidak mengakui sifat Allah, sebab apa yang dikatakan or-ang sebagai sifat Allah, tidak lain dzat Allah itu sendiri;
    • Al-Qur’an adalah makhluk;
    • Tuhan, di alam akhirat kelak, tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Yang terjangkau oleh mata manusia bukanlah Tuhan.
  2.  

  3. Keadilan Allah SWT. Aliran Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah SWT akan memberikan imbalan kepada manusia sesuai dengan apa yang diperbuat oleh manusia.
  4. Janji dan ancaman. Aliran Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah SWT tidak akan mengingkari janjinya : memberi pahala kepada orang muslim yang berbuat baik, dan melimpahkan siksa kepada orang muslim yang berbuat dosa.
  5. Posisi di antara dua posisi. Ajaran ini dicetuskan oleh Wasil bin atho sendiri yang menyebabkannya memisahkan diri dari Imam Hasan al-Basri, bahwa seorang mukmin yang berbuat dosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.
  6. Amar makruf (tuntutan berbuat baik) dan Nahi Mungkar (mencegah segala perbuatan tercela). Jadi ajaran Mu’tazilah yang terakhir ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.

Tokoh-tokoh Mu’tazilah yang terkenal ialah:

  1. Wasil bin Atho (pelopori kelahiran aliran ini);
  2. Abu Huzail al-Allaf (135-235H/751-849M), tokoh yang menyusun lima ajaran pokok Mu’tazilah;
  3. Al-Nazzam, murid dari Abu Huzail; dan
  4. Al-Jubba’i - nama lengkapnya: Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab (235-303H/849-915M).

Sekalipun aliran Mu’tazilah tidak eksis lagi, namun pemikiran-pemikiran rasionalnya sering digali kembali oleh para cendikiawan muslim dan non-muslim.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa