Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Telaah » » Kekayaan Itu Harus Dijemput dengan Bekerja dan Berusaha
Kekayaan Itu Harus Dijemput dengan Bekerja dan Berusaha
Maka, usaha yang sungguh-sungguh akan menjadi penentu dan pembeda antara seseorang yang berhasil dan tidak. Orang yang bermalas-malasan tentu hasilnya tidak akan sama dengan orang yang giat dan tekun dalam bekerja.
Kamis, 04 September 2014

C. Kekayaan Itu Harus Dijemput dengan Bekerja dan Berusaha

Selain memohon pertolongan kepada Allah Swt. agar dilimpahi kekayaan dengan melakukan shalat Dhuha, hai lain yang tidak kalah penting adalah kita juga harus berusaha (bekerja). Kedua unsur ini harus seimbang dan sama-sama dilakukan. Jika kita hanya bekerja tanpa memohon pertolongan kepada-Nya, bisa jadi kekayaan yang kita dapatkan tidak memberikan manfaat atau tidak berkah. Bila kita hanya berdoa tanpa bekerja atau berusaha, berarti kita menafikan sunnatullah, karena rezeki itu pada dasarnya harus dijemput dan tidak bisa hanya duduk memohon pertolongan kepada-Nya.

Di dalam al-Qur`an, telah dijelaskan bahwa Allah Swt. tidak akan mengubah nasib seseorang bila ia tidak mau berubah atau berusaha mengubah nasibnya sendiri. Bekerja merupakan unsur paling penting agar seseorang dapat menikmati hasil yang diimpikan, yang berupa kekayaan. Jika mau diibaratkan, bekerja pahit akarnya, tetapi manis buahnya. Ini menggambarkan bahwa bekerja pastilah berat, capek, dan memungkinkan kita mengalami kesulitan tertentu. Namun, akhirnya, kita akan memetik hasilnya, bahkan dapat merasakan betapa besar arti keberhasilan dan kemenangan dari usaha itu.

Maka, usaha yang sungguh-sungguh akan menjadi penentu dan pembeda antara seseorang yang berhasil dan tidak. Orang yang bermalas-malasan tentu hasilnya tidak akan sama dengan orang yang giat dan tekun dalam bekerja. Ini berarti bahwa dalam mencari rezeki, kita tidak bisa hanya berpangku tangan dan menunggu duit jatuh dari langit di dalam rumah.
Rezeki atau kekayaan harus dicari atau dijemput dengan suatu tindakan, yaitu bekerja. Karena melalui tindakan tersebut, semuanya akan terjawab, dari semula yang hanya bayang-bayang atau angan-angan akan menjadi kenyataan. Dari semula yang sebatas mimpi akan berubah menjadi kepastian, dan tidak ada suatu tindakan yang paling tepat, selain bekerja.
Oleh karena itu, bekerja merupakan suatu fitrah nyata yang akan membawa diri seseorang berubah dan dapat merealisasikan cita-citanya. Jadi, stop think, action now (berhentilah berangan-angan, bekerjalah sekarang).

Jika kita ingin kaya, jangan hanya membayangkan atau memperhitungkan hasil pekerjaan sebelum ada tindakan. Nah, yang paling bijak adalah lebih mendahulukan tindakan dalam pekerjaan, kemudian memikirkan hasilnya.

Itulah prinsip yang mesti dimiliki oleh Anda bila menginginkan kekayaan yang melimpah. Sebab, pada prinsipnya, tindakan adalah prasarana, sedangkan hasil merupakan realitas dari tindakan. Jelasnya, kita bertindak atau bekerja dulu, lalu bisa mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh. Bukan hasil dulu yang dipertimbangkan, sedangkan kita belum mengetahui cara bekerja.

Begitu pun, jika Anda menginginkan rezeki yang banyak, maka Anda harus memulai bekerja, karena ini merupakan sunnatullah.` Islam pun telah mendorong umatnya untuk selalu giat bekerja dan tidak bermalas-malasan. Ini termaktub dalam firman Allah Swt. berikut:



"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."(QS. al-Jumu`ah [62]: 10).


Dalam Islam, orang yang bekerja memiliki kedudukan yang mulia. Begitu mulianya kedudukan tersebut, sehingga Islam menempatkannya dalam kategori ibadah. Artinya, aktivitas kerja dalam pandangan Islam merupakan bagian dari ibadah yang akan mendapatkan keuntungan material sekaligus pahala dari Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, "Tidaklah seseorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri." (HR. Baihaqi).

Rasulullah Saw. juga pernah memuji salah seorang sahabatnya yang tangannya kasar karena ia sering bekerja untuk menafkahi keluarganya. Bahkan, beliau pernah menegaskan bahwa seorang laki-laki yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya atau keluarganya disejajarkan dengan mujahid yang berjuang di jalan Allah Swt. Allah Swt. tentu sangat mencintai hamba-Nya yang bekerja, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. ini, "Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang hari, maka pada malam itu, ia diampuni oleh Allah." (HR. Ahmad).

Pada dasarnya, kita diciptakan oleh Allah Swt., dan rezeki kita pun telah diatur oleh-Nya. Rezeki kita ditentukan setelah empat bulan usia kandungan dalam perut sang ibu. Begitu pun makhluk-Nya yang lain. Misalnya, Allah Swt. menciptakan pohon yang terbatas gerakannya dan tidak lincah, maka makanannya diperoleh lewat akarnya dan menyerap sumber air di sekelilingnya. Artinya, rezeki pohon pun sengaja didekatkan oleh-Nya dan sudah diatur-Nya. (bersambung...)







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa