Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Telaah » » Kekayaan Itu Harus Dijemput dengan Bekerja dan Berusaha II
Kekayaan Itu Harus Dijemput dengan Bekerja dan Berusaha II
Begitu pun manusia. Ketika masih berada di dalam perut sang ibu, rezekinya didapatkan lewat tali ari-ari karena belum bisa berbuat. Dan, setelah lahir, walaupun tali ari-ari sudah digunting, ia masih ketemu dengan rezekinya,
Rabu, 17 September 2014

Sambungan Kekayaan Itu Harus Dijemput dengan Bekerja dan Berusaha


Demikian pula binatang, seperti singa. Sejak masih bayi, singa tidak bisa mengejar kijang. Maka, Allah Swt. menyediakan air susu di tubuh induknya. Ketika air susunya berhenti, Allah Swt. pun menggantinya dengan makanan yang diburu oleh induknya. Setelah besar, singa pun berburu sendiri. Semakin kuat fisiknya, semakin tinggi kualitas usahanya.

Begitu pun manusia. Ketika masih berada di dalam perut sang ibu, rezekinya didapatkan lewat tali ari-ari karena belum bisa berbuat. Dan, setelah lahir, walaupun tali ari-ari sudah digunting, ia masih ketemu dengan rezekinya, yaitu ASI (air susu ibu). Kemudian, setelah air susu berhenti, Allah Swt. menyediakan berbagai makanan; saat lapar, ia hanya perlu menangis, maka rezeki pun akan datang kepadanya. Semakin dewasa, semakin gigih ikhtiarnya menjemput rezeki lantaran Allah Swt. telah menyiapkan kekuatan fisik, akal, dan indra perasa.

Dengan demikian, masihkah kita malas mencari rezeki Allah Swt. jika ingin kaya? Sebab, binatang saja berusaha mendapatkan rezekinya agar bisa bertahan hidup.

Jadi, kunci meraih kekayaan finansial tidak hanya dengan diam dan bermalas-malasan, tetapi harus aktif bergerak atau berusaha mendapatkan kekayaan yang diimpikan. Binatang saja yang tidak berakal tetap berikhtiar, sehingga dapat bertemu dengan rezekinya. Maka, mustahil manusia yang mempunyai akal tidak bisa bertemu dengan rezekinya.2 Di sinilah pentingnya kita berusaha (berbisnis) untuk mendapatkan kemapanan secara ekonomi.

Kita tidak perlu khawatir tidak kebagian rezeki dari Allah Swt. Sebab, Dia telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk-Nya. Orang yang beriman kepada-Nya tentu tidak akan pernah mengeluh tentang sesuatu yang ia peroleh, meskipun yang didapatkannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sebab, ia yakin bahwa Allah Swt. sudah menetapkan rezeki baginya.

Walaupun rezeki telah ditetapkan bagi setiap makhluk Allah Swt., namun tidak berarti bahwa kita hanya dudukdiam, dengan mengharap rezeki datang begitu saja. Namun, kita tetap harus berikhtiar untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan oleh-Nya. Sebab, rezeki bukan seperti hujan yang turun dari langit begitu saja tanpa disertai ikhtiar.

Sesuatu yang kita tabur, tentu kelak kita pun akan menuainya. Allah Swt. Maha Pengasih. Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Sesuatu yang diusahakan oleh manusia, tentu mereka pun akan mendapatkan imbalan yang setimpal.

Begitu pula dengan rezeki. Orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh tentu akan mendapatkan rezeki yang lebih baik daripada orang yang hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun yang dapat mendatangkan rezeki.

Perusahaan-perusahaan yang berdiri megah mulanya juga diawali dengan perjuangan yang memeras keringat. Namun, kita sering kali hanya melihat segala sesuatu dari luarnya. Kita tidak mencermati bahwa seorang pengusaha yang sukses dulunya juga pernah mengalami proses jatuh bangun, sehingga mendapatkan sesuatu yang telah ia usahakan.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam meraih kekayaan atau rezeki Allah Swt., sesuai caranya untuk mengetahui potensinya dan menjemput kekayaan yang telah ditetapkan untuknya. Lantas, apa usaha (ikhtiar) kita agar bisa meraih kekayaan dan kemapanan secara ekonomi? Jawaban yang paling tepat adalah berwirausaha atau berbisnis. Robert T. Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul Retire Young Retire Rich mengungkapkan bahwa profesi yang paling memungkinkan untuk mencapai kebebasan finansial adalah wirausaha.

Mengapa wirausaha? Ada beberapa aiasan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, wirausaha adalah profesi Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Pada usia 12-¿5 tahun, beliau tercatat melakukan perjalanan bisnis sebanyak 18 kali ke luar negeri Syam (kini Suriah) bersama pamannya. Dan, Rasulullah Saw. pun termasuk pengusaha sukses karena mendapatkan keuntungan yang melimpah dari bisnisnya.

Kedua, bisnis merupakan bagian dari bekerja. Islam memandang bisnis atau bekerja bukan hanya merupakan upaya untuk mendapatkan uang atau penghargaan semata, melainkan juga untuk niat ibadah kepada Allah Swt.

Ketiga, menjadi wirausaha merupakan jalur cepat menuju kaya. Fakta membuktikan bahwa daftar orang-orang terkaya di seluruh dunia (juga di Indonesia) diduduki oleh pengusaha atau wirausahawan, seperti Warren Buffet, Bill Gates, Larry Ellison, dan Carlos Slim Helu. Sedangkan, di Indonesia, ada R. Budi dan Michael Hartono yang merupakan pengusaha rokok, dan lain sebagainya.

Keempat, kini bekerja di mana pun pasti membutuhkan ijazah. Dan, hampir semua posisi pekerjaan, baik di instansi pemerintah maupun swasta, memerlukan ijazah sebagai syarat. Ini berarti bahwa kita dituntut memiliki gelar sarjana. Padahal, menjadi pengusaha tidak mensyaratkan gelar apa pun. Setiap orang dapat berwirausaha, meskipun tidak berpendidikan. Artinya, wirausaha adalah profesi yang terbuka bagi siapa pun yang berminat menggelutinya.

Dalam berwirausaha, modal utama yang diperlukan adalah mindset positif, kejujuran, disiplin, memiliki integritas yang baik, dan semangat untuk berjuang tanpa putus asa. Dalam hal ini, shalat Dhuha merupakan kekuatan yang bisa menempa kita menjadi orang yang tangguh. Shalat Dhuha juga sebagai basis spiritual untuk memuluskan perjalanan kita menuju kesuksesan serta kekayaan yang diridhai dan membahagiakan.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa