Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Telaah » » Shalat Dhuha dan Sedekah; Dua Ikhtiar Terbaik Memanggil Kekayaan Finansial II
Shalat Dhuha dan Sedekah; Dua Ikhtiar Terbaik Memanggil Kekayaan Finansial II
"Bekerjalah seakan-akan kamu hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah seakan-akan kamu meninggal besok pagi." Dari hadits tersebut, tersirat sebuah pesan bahwa orang Islam harus kaya dan menjadi pihak terdepan dalam ...
Rabu, 22 Oktober 2014

Islam sejatinya menganjurkan umatnya menjadi orang kaya. Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah Saw. telah memberi rambu-rambu dalam hadits ini, "Bekerjalah seakan-akan kamu hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah seakan-akan kamu meninggal besok pagi."

Ali bin Abi Thalib juga pernah berujar, "Jika miskin itu berbentuk manusia, maka pasti akan kubunuh terlebih dahulu sebelum aku membunuh musuhku dalam perang."

Dari hadits tersebut, tersirat sebuah pesan bahwa orang Islam harus kaya dan menjadi pihak terdepan dalam perekonomian global. Juga, menjadi landasan agar setiap orang Islam harus bekerja dan mencari rezeki sebanyak - banyaknya supaya tidak terjebak dengan kekufuran. Sebagai dampaknya,—dengan kekayaan tersebut—umat muslim akan merasakan damai dan sejahtera, sehingga dalam beribadah pun, mereka dapat merasa tenang dan tenteram.

Dengan ungkapan lain, Rasulullah Saw. tidak menghendaki umatnya miskin dan dilindas oleh keadaan. Sebab, dalam hadits lain, diterangkan bahwa kefakiran lebih dekat dengan kekafiran. Namun, tidak banyak di antara kita yang dapat menangkap kunci rahasia mengenai cara seseorang bisa kaya. Padahal, Allah Swt. telah menyediakan kuncinya itu, yang berupa amalan-amalan yang harus kita kerjakan, yaitu shalat Dhuha dan sedekah.

Sebenarnya, masih banyak ayat al-Qur`an lainnya yang secara tersirat memerintahkan kita agar menjadi orang kaya. Misalnya, ayat al-Qur`an yang memerintahkan ibadah haji bagi orang yang mampu, yang merupakan rukun Islam kelima. Allah Swt. berfirman:



“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Ali`lmran [3]: 97).

Ayat tersebut menganjurkan agar umat Islam kaya. Sebab, untuk dapat pergi ke Makkah dan melaksanakan ibadah haji, tentu kita harus memiliki harta yang cukup banyak untuk biaya perjalanan ke Baitullah dan keperluan selama di sana. Ini berarti bahwa orang Islam harus kaya supaya dapat menunaikan ibadah haji. Lebih bagus lagi jika mampu memberangkatkan orang tua, saudara, atau orang muslim lainnya untuk menunaikan ibadah haji.

Selain itu, dalam ayat al-Qur`an lainnya, juga ditegaskan bahwa Allah Swt. berfirman:



"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaksupaya kamu beruntung." (QS. al-Jumu`ah [62]: 10).

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa kita dianjurkan berbisnis tidak hanya dalam skala lokal, tetapi juga dalam kancah global. Di akhir ayat, kita juga diingatkan agar senantiasa mengingat Allah Swt. ketika berbisnis. Nah, hal ini jelas sangat relevan dengan shalat Dhuha dan sedekah; kita dianjurkan memulai aktivitas atau mengiringi aktivitas (bisnis) dengan shalat Dhuha. Dan, ketika bisnis kita untung, jangan lupa agar kita juga menunaikan sedekah. Ini merepresentasikan bahwa Islam menganjurkan umatnya supaya memiliki kekayaan finansial yang dibangun berlandaskan nilai-nilai keimanan.

Dulu, Rasulullah Saw. dan istri beliau, Siti Khadijah, merupakan orang yang kaya raya. Sebelum Islam datang ke kota Makkah, Siti Khadijah telah dikenal oleh masyarakat Quraisy sebagai seorang entrepreneur yang kaya raya.

Setelah Islam datang, Khadijah bekerjasama dan berbisnis dengan Rasulullah Saw., dan harta kekayaannya pun meningkat berkat ketangguhan Rasulullah Saw. dalam berbisnis. Akhirnya, Siti Khadijah pun menikah dengan Rasulullah Saw., dan harta kekayaan mereka didayagunakan sepenuhnya untuk menyokong dakwah Rasulullah Saw.

Begitu pun dengan para sahabat Rasulullah Saw., seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, yang termasuk para entrepreneur sukses yang kaya raya. Kekayaan yang mereka miliki sepenuhnya didayagunakan untuk memperkuat perjuangan dakwah Rasulullah Saw.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa