Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Telaah » » Peta Khazanah Keilmuan Islam Klasik dan Peran Perguruan Tinggi Indonesia (Bag. 1)
Peta Khazanah Keilmuan Islam Klasik dan Peran Perguruan Tinggi Indonesia (Bag. 1)
Rubrik telaah kali ini, ingin mengajak pembaca berwisata ke khazanah keilmuan Islam klasik. Pemikir Arab kontemporer mengistilahkan khazanah keilmuan Islam klasik dengan istilah Turats. Sangat disayangkan, banyak orang Islam tak tahu atau...
Selasa, 00 0000

Rubrik telaah kali ini, ingin mengajak pembaca berwisata ke khazanah keilmuan Islam klasik. Pemikir Arab kontemporer mengistilahkan khazanah keilmuan Islam klasik dengan istilah Turats. Sangat disayangkan, banyak orang Islam tak tahu atau memang tak mau tahu dengan warisan leluhurnya. Akibatnya mereka menilai bahwa sepanjang sejarah kemunculannya Islam tak pernah menghasilkan sesuatu yang berarti. Tidak ada kontribusi dalam membangun peradaban dunia. Merasa tak ada yang bisa dibanggakan.

Dalam data yang bisa diserap penulis, sekarang ini ada beratus-ratus ribu manuskrip turats (khazanah Islam klasik) karya ulama kita, dari berbagai disiplin ilmu yang tersebar di seluruh perpustakaan dunia. Dalam mukhadimah al-Burhan fi ushul al-Fiqh, Dr. Abd. Adhim Mahmud Dayb, bahkan memperkirakan ada sekitar 3 juta manuskrip yang sekarang masih tersimpan dirak-rak perpustakan, diluar yang dibakar pasukan Hulaku (Tatar) pada tragedi jatuhnya Baghdad (1258 M) tentunya. Sayang seribu sayang memang, sejak ditemukan mesin cetak, hingga kini, hanya sekitar 5000 judul buku saja yang sudah dicetak. Gatra (17/2/2007) melaporkan Sepuluh ribu judul buku (10.000) ada di Institut Ketimuran Rusia.

Realitas di atas, bikin kita kagum, gedek-gedek kepala, sekaligus sedih. Kagum, di tengah keterbatasan fasilitas saat itu, baik referensi, maupun penulisan yang hanya menggunakan tangan, ternyata leluhur kita sanggup melahirkan karya fantastis, bermutu dan luar biasa produktifnya. Imam Syuyuthi (Pengarang Tafsir Jalalain) sepanjang 62 tahun usianya, misalnya, sanggup melahirkan lebih dari 300 judul buku. Sedih, karena kita belum bisa seproduktif mereka. Belum bisa meniru mereka. Bahkan, kadang kita tak sadar kalau kita punya khazanah begitu besar. Beberapa, malah menyerukan untuk ditinggalkan begitu saja, karena dianggap tidak bermanfaat lagi dan mengajak kita meniru peradaban Barat, berkiblat padanya, karena dengan peradabannya Barat maju. Terlepas dari anti Barat atau tidak, sikap itu adalah sikap yang kurang arif. Turki ternyata tak kunjung maju. Kenapa? disinyalir karena tercerabut dari budaya aslinya. Mereka kehilangan identitas, dan akhirnya bingung menentukan orientasi hidupnya. Sementara Jepang bisa maju, justru dengan tetap keukeuh berpegang pada budaya dan tradisi lokalnya.

Klasifikasi Khazanah Islam Klasik

Turats atau khazanah Islam klasik, sebagai sebuah peninggalan masa lalu, terbagi ke dalam beberapa klasifikasi. Ada turats yang berbentuk model bangunan-bangunan kuno, artifak-artifak, cerita oral (dari mulut ke mulut) dan manuskrip. Yang paling bisa merepresentasikan kebesaran masa lalu adalah manuskrif, maka ia sering dijadikan sumber primer dalam melacak pemikiran dan kejayaan masa lalu. Yang akan kita bahas adalah yang terakhir. Dan yang terakhir inipun sejati akan kita kerucutkan pada hal yang paling relevan dalam konteks pendidikan dan kita butuhkan saat ini, yaitu khazanah keilmuan Islam klasik.

Meminjam klasifikasi Khawirizmi (W. 387 h.) dalam Mafatih al-Ulumnya, bahwa disiplin keilmuan itu ada Ilmu ajam/umum (sudah ada semenjak Islam belum lahir), ada ilmu syara/Arab’ (Ilmu yang diciptakan dan dihasilkan orang Arab atau Islam), maka klasifikasi itu bisa diterapkan juga dalam khazanah turats. Ulama kita ternyata tidak hanya meninggalkan karya yang berorientasi keagamaan. Tapi, juga meninggalkan ilmu-ilmu umum: politik, ekonomi, sosial, fisika, kimia, mantik dll. Klasifikasi yang dilakukan Khawarizmi di atas, atau oleh generasi istilahnya, seperti Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin-nya hanya istilah, untuk pemetaan data saja yang mengacu kepada: untuk apa dan darimana sumber ilmu itu dihasilkan atau dalam istilah lain mengacu ke mabadi al-asyrah. Jadi jangan salah faham! Klasifikasi ini tidak berarti ilmu-ilmu keislaman penting sekali, sementari ilmu-ilmu umum tidak penting. Bahkan diharamkan. Ingat, orang dulu menganggap semua ilmu penting. Maka kalau umat Islam tidak punya pakar-pakar kedokteran, kimia, fisika, dan ilmu-ilmu lainnya yang dibutuhkan dalam kehidupan, hukumnya adalah dosa. Karena itu fardhu kifayah. (bersambung...)







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa