Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Telaah » » Peta Khazanah Keilmuan Islam Klasik dan Peran Perguruan Tinggi Indonesia (Bag. 2)
Peta Khazanah Keilmuan Islam Klasik dan Peran Perguruan Tinggi Indonesia (Bag. 2)
Fonemena dualisme keilmuan yang sekarang melanda umat Islam itu relatif baru (Kira-kira awal abad 19 M, ketika bangsa Islam mulai dijajah). Sekarang ada yang disebut sekolah umum, ada sekolah agama, dimana orang begitu pintar ilmu syariah, tapi tidak tahu menahu, bahkan ...
Selasa, 00 0000

Fonemena dualisme keilmuan yang sekarang melanda umat Islam itu relatif baru (Kira-kira awal abad 19 M, ketika bangsa Islam mulai dijajah). Sekarang ada yang disebut sekolah umum, ada sekolah agama, dimana orang begitu pintar ilmu syariah, tapi tidak tahu menahu, bahkan memang tak mau tahu tentang ilmu umum. Begitu sebaliknya seorang profesor kimia, misalnya pintar sekali dibidangnya, tapi selalu mengatakan, “Saya ini orang awam,” untuk urusan agama. Ulama-ulama kita dulu, tak pernah membedakan. Bagi mereka semuanya penting. Hanya ada prioritas; mana dulu yang perlu dipelajari karena berkaitan dengan kebutuhan individual? Mana yang fardu ‘ain dan mana yang fardhu kifayah? Bukti bahwa orang dulu tak pernah menganaktirikan disiplin ilmu tertentu dapat dilihat dari ilmu yang dikuasai ulama-ulama terdahulu.

Seorang Ibn Rusyd, misalnya, adalah ahli filsafat, ahli fikih, sekaligus seorang fakar kedokteran. Tak heran juga, misalnya, kalau Ibn Nafis adalah dokter ahli mata, plus ahli fikih. Ibn Khaldun, sosiolog Islam ternama, juga seorang ahli fikih. Yang menarik lagi, ternyata orang dulu bisa dikatakan hampir tidak mengenal istilah spesialisasi ilmu. Karena bagi mereka semua aliran ilmu itu berada dalam satu atap bangunan pemikiran. Tidak ada ilmu yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saling melengkapi. Itu mungkin rahasia dibalik; kenapa orang dulu bisa menghasilkan karya berbobot dan bertahan dalam jangka waktu sangat lama. Imam Syuyuthi, misalnya menguasai lebih dari 7 disiplin ilmu. Begitu juga al-Ghazali, an-Nawawi, as-Syathibi, Ibn Khaldun, dll. Konsep spesialisasi ilmu masuk bersamaan dengan diterapkannya, dengan sadar atau tidak sadar, metode dualisme keilmuan agama non agama (ilmi vs adabi). Proyek itu digalakan oleh Muhamad Ali basya, saat memimpin Mesir. Paska dijajah Peracis

Kondisi Khazanah Keilmuan Islam Sekarang

Tadi dipaparkan bahwa khazanah keilmuan Islam kita lintas disiplin ilmu. Sekarang kita akan mempetakan secara singkat, mana yang sudah dielaborasi dengat lumayan, mana yang masih terus memerlukan elaborasi lebih lanjut dan mana yang masih minim, bahkan banyak karya yang tak diketahui juntrungnya:

  1. Yang sudah dielaborasi dengan cukup baik dibanding yang lain, adalah ilmu-ilmu syariah dan ilmu kedokteran. Maka tak heran kalau kita bisa dengan mudah mendapatkan al-Muwatha-nya Imam Malik, ar-Risalah atau al-Um-nya Imam as-Syafi’i (W. 205 h.), al-Burhan fi Ushul fikih-nya Imam Haramain (W. 478 h.), as-Syifa-nya Ibn Sina. Kita dapat menikmati al-Qanun fi at-Tibb. Al-hawi, at-Tashrif, dll. Ini pun tingkat pelacakannya tidak sempurna. Masih banyak sekali yang belum tergali. Tapi masih dianggap lebih baik dibanding yang lain.
  1. Di bawah yang pertama adalah ilmu falak, fisika, dan matematika. Bidang-bidang tadi ini masih butuh penelusuran lebih lanjut. Karena baru beberapa gelintir saja yang diedit, dicetak dan dinikmati khalayak ramai.
  1. Yang terakhir ini bisa dinilai masih sangat memprihatinkan. Karena sampai sekarang hanya beberapa karya saja yang bisa dilacak dan diketahui keberadaanya. Mayoritas khazanah ini hilang.

Yang sudah bisa diakses

Menurut Dr. Abd. Adhim Mahmud dayb, dari sekitar 3 juta manuskrip kita, yang dicetak baru sekitar 5000 judul buku. Ini sungguh memprihatinkan. Orang dulu, ketika penulisan masih manual, ketika referensi tidak semudah sekarang, ketika fasilitas hidup tak senyaman kini, sanggup menghasilkan 3 juta manuskrip. Ini diluar yang dibakar pada saat tragedi jatuhnya pemerintahan Abbasiah di Baghdad (1258 M) oleh pasukan Tatar. Sementara kita yang hidup dijaman modern, jaman si Doel anak sekolahan, masa dimana mesin cetak sudah ditemukan bahkan bisa mencetak beribu-ribu judul buku dalam dalam hitungan minggu hanya mampu mencetak 5000 judul buku! 

Peran Perguruan Tinggi kita

Uraian data di atas menunjukan bahwa khazanah keilmuan kita masih sangat minim digali. Sedikit sekali yang baru bisa dimanfaatkan. Memprihatinkan! Perlu proyek keilmuan yang serius dan kesabaran yang tinggi untuk membongkarnya. Dan menyuguhkan kembali ke khalayak ramai. 

Dalam konteks kita, yang bisa menggarap serius proyek itu mungkin hanya perguruan-perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi Islam. Namun sayangnya, seperti disinggung Prof. Dr. Qadri Azizy (Lih. Pengembangan ilmu-ilmu Keislaman), bahwa di negara kita ada anggapan translation (terjemahan) dan editing manuscript (mengedit/mentahkik) itu bukan kerja keilmuan. Di Barat dan Timur Tengah, khususnya Universitas al-Azhar, dua hal itu sudah diakui sebagai kerja keilmuan. Dalam komunitas al-Azhar, misalnya, seseorang bisa mendapatkan gelar Doktor maupun Magister dengan menulis tesis ataupun disertasi yang berupa editing atau mentahkik buku-buku turats. Hal ini berangkat dari cara pandang, bahwa kerjaan itu merupakan kerja keilmuwan. 

Menimbang kondisi khazanah keilmuan kita yang mayoritas masih berbentuk manuskrip (Baca; tak bisa dimanfatkan orang banyak) dan pengalaman di beberapa negara yang menjadikan terjemahan dan editing manuskrip sebagai kerja keilmuan, barangkali sudah sepatutnya para pegiat pendidikan menjadikan kedua hal itu sebagai kerja keilmuan. Karena kerjaan itu berat, minimal memerlukan empat kecakapan

  1. Kemampuan bahasa yang memadai
  2. Kedetailan memahami istilah-istilah keilmuan yang beberapa diantaranya mungkin sudah tak sama dengan pengertian sekarang. Artinya, kalimatnya sama, tapi pengertiannya sudah berubah
  3. Harus memahami rukyah kuliah atau ideologi para penulisnya
  4. Dan harus tahu nadhariat atau kaidah-kaidah yang biasa digunakan

Maka hendaknya proyek ini dikerjaan oleh mahasiswa setingkat program magister atau doktoral.

 

Wallahu ‘alam







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa