Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Ulumul Hadits » Hadist » Hadits Mutawatir Dan Hadits Ahad
Hadits Mutawatir Dan Hadits Ahad
Ditinjau dari segi rawi (perawi atau orang yang meriwayatkan),, hadits dibagi dalam dua bentuk besar. Bentuk pertama terbagi atas hadits mutawatir dan hadits ahad. Bentuk kedua terbagi atas mutawatir, ahad, dan masyhur.
Minggu, 01 April 2012

Ditinjau dari segi rawi (perawi atau orang yang meriwayatkan),, hadits dibagi dalam dua bentuk besar. Bentuk pertama terbagi atas hadits mutawatir dan hadits ahad. Bentuk kedua terbagi atas mutawatir, ahad, dan masyhur. Konon bentuk pertama yang lebih praktis. Mengapa? Karena hadits masyhur itu sudah tercakup dalam hadits ahad yang terbagi atas masyhur, ’aziz, dan ghorib.

Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang dalam setiap sanadnya dan mustahil para perawinya itu sepakat berdusta. Sebab hadits itu diriwayatkan oleh banyak orang dan disampaikan kepada banyak orang. Oleh karena itu diyakini kebenarannya.

Dalam hal keotentikannya, hadits mutawatir sama dengan al-Qur’an, karena keduanya merupakan sesuatu yang pasti adanya (qoth’i al-wurud). Itulah sebabnya para ’ulama sepakat bahwa hadits mutawatir wajib diamalkan. Berikut salah satu contoh hadits mutawatir itu: Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempat (kembali)nya dalam neraka." (HR. Bukhori, Muslim, Darimi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Thobroni, dan Hakim)

Hadits mutawatir terbagi dua:

  • mutawatir lafzi, yakni perkataan Nabi Muhammad saw., dan
  • mutawatir ’’amali, yakni perbuatan nabi Muhammad saw.

 

Hadits Ahad, yaitu hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir. Mengenai hadits ahad ini, para imarn mazhab berbeda pendapat. Menurut Imam Hanafi (Abu Hanifah), jika rawinya orang-orang yang adil maka hanya dapat dijadikan hujjah pada bidang amaliyah. Bukan pada bidang aqidah dan ilmiah. Imam Malik berpendapat hadits ini dapat dipakai menetapkan hukum- hukum yang tidak dijumpai dalam al-Qur’an dan harus didahulukan dari qiyas zhonni (tidak pasti)

Imam Syafi’i menegaskan, hadits ini dapat dijadikan hujjah jika rawinya memenuhi empat syarat, yaitu:

  1. berakal;
  2. dhobit (yakni memiliki ingatan dan hafalan yang sempurna c-s serta mampu menyampaikan hafalan itu kapan saja dikehendaki); dan
  3. mendengar langsung dari Nabi Muhammad saw. dan tidak menyalahi pendapat ’ulama hadits.

Hadits Masyhur yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tiga rawi atau lebih dengan sanad yang berbeda. Contohnya, Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Orang Islam adalah orang yang tidak mengganggu orang Islam lainnya baik dengan lidah maupun dengan tangannya." (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi)

Sanad Bukhori, yaitu Bukhori (menerima) dari Adam, dari Syu’bah, dari Abdullah bin Abu Safar, dari Asy-Sya’bi, dari Abdullah bin Amir, dari Nabi Muhammad saw.

Sanad Muslim, yaitu Muslim (mendengar) dari Sa’id, dari Yahya, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi Muhammad saw.

Sanad Tirmidzi, yaitu Tirmidzi (mendengar) dari Qutaidah, dari al-Lais, dari al-Qo’qo, dari Abu Salih, dari Abu Huroiroh, dari Nabi Muhammad saw.

Hadits Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi, walaupun setelah itu diriwayatkan oleh sejumlah rawi.

Hadits Ghorib adalah hadits yang dalam sanadnya hanya ada satu orang rawi, dimanapun sanad itu terjadi.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Subkategori Ulumul Hadits
Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa