Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Ulumul Qur`an » Tafsir Quran » Ilmu Bantu Tafsir
Ilmu Bantu Tafsir
Banyak sahabat Nabi Muhammad saw. yang enggan menafsirkan Al-Qur’an. Sebab dalam penafsiran Al-Qur’an cuma ada dua penilaian sebagaimana telah disebutkan di a tas, yaitu terpuji atau dapat diterima (mahmudah/maqbul) dan ...
Minggu, 25 Maret 2012

Banyak sahabat Nabi Muhammad saw. yang enggan menafsirkan Al-Qur’an. Sebab dalam penafsiran Al-Qur’an cuma ada dua penilaian sebagaimana telah disebutkan di a tas, yaitu terpuji atau dapat diterima (mahmudah/maqbul) dan tercela atau yang ditolak (madzmum/mardud). Karena itu mereka sangat berhati-hati jika ditanya tentang tafsir suatu ayat Al-Qur’an, sehingga mereka memberikan jawaban, "Langit mana yang akan melindungiku. Bumi mana yang memberiku tempat berpijak. Kemana aku harus pergi dan apa yang harus kulakukan jika aku menerangkan Al-Qur’an dengan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah."

Sanksi bagi seseorang yang menafsirkan Al-Qur’an sekehendak hatinya, sangatlah berat. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengatakan tentang Al-Qur’an tanpa pengetahuan, maka hendaklah ia bersiap-siap menduduki tempatnya di neraka." (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas ra. dengan sanad berpredikat shohih) Hadits senada juga dikeluarkan dalam riwayat yang lain. jundub bin Abdullah ra. menginformasikan, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengatakan tentang Kitabullah dengan pendapatnya sendiri, lalu ia benar, maka sesungguhnya ia telah keliru." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Nasa’i dengan sanad berpredikat Hasan)

Jelaslah bahwa siapa pun yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri dan kecenderungannya tidak sesuai dengan yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Rosulullah saw. serta pendapat para sahabat, maka sesungguhnya ia telah keliru dari jalan yang benar. Maka wajib baginya masuk neraka sebab ia termasuk orang yang berani berbuat dusta terhadap Allah SWT dan Rosul-Nya. jadi jika saudara ingin belajar tafsir, maka bergurulah kepada ahlinya. Sebab sekarang ini banyak orang yang berani menafsirkan Al-Qur’an padahal ilmunya pas-pasan sehingga tafsirannya seringkali bertentangan dengan hadits-hadits shohih Bukhori Muslim. Bahkan ada juga tafsirannya yang bertentangan dengan Al-Qur’an itu sendiri.

Perlu diketahui bahwa seseorang yang menafsirkan Al-Qur’an haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut Al-Farmawi, sebagaimana diketengahkan dalam buku Ilmu Tafsir karya Dra. Rosihon Anwar, M.Ag. (Pustaka Setia, Bandung: 2000), seorang mufassir (penafsir Al-Qur’an) harus memiliki syarat-syarat berikut ini.

  • memiliki keyakinan yang benar. Sebab orang yang keberagamaannya telah rusak (misalnya sering berdusta, penyebar fitnah, atau penipu sesamanya), ia tidak dapat dipercaya untuk menangani urusan-urusan keduniaan. Lebih-lebih lagi untuk menangani urusan agama, sangat sulit dipercaya.
  • memiliki motivasi yang benar. Maksudnya motivasinya haruslah benar-benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maksudnya bukan untuk mencari dunia atau pujian orang lain. Allah SWT berfirman, "Orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang karena Kami, maka Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.’’ (QS. 29/Al-Ankabut: 69)

keikhlasan seseorang terlihat dari kezahidannya. Seseorang I yang termasuk pencinta dunia sulit dipercaya jika ia tidak memiliki motivasi untuk memperoleh harta, prestise, perhatian, I dan pujian orang lain; dan

menguasai ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mufassir, yang terdiri dari lima belas macam.

  1. Ilmu bahasa Arab (linguistik Arab). Dengan ilmu ini seorang mufassir (penafsir Al-Qur’an) dapat mengetahui penjelasan kosakata Al-Qur’an, konotasi, dan konsteknya.
  2. Ilmu Nahwu (tata bahasa). Ilmu yang menunjukkan bahwa sebuah makna akan berubah seiring dengan perubahan i’rodh
  3. Ilmu Shorof (konjugasi). Dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahu bentuk asai dan pola (shighot) sebuah kata.
  4. Ilmu Istiqoq (derivasi kata, etimologi) Jika diambil dari dua kata dasar yang berbeda, sebuah "kalimat" isim pasti memiliki makna yang berbeda pula. Contohnya kata "al-masih", apakah diambil dari kata dasar assiyahah atau al-mashl
  5. Ilmu ma’ani (retorika), Dengan ilmu ini, seorang mufassir dapat mengetahui karakteristik-karakteristik susunan sebuah ungkapan makna yang dihasilkan.
  6. Ilmu bayan (ilmu kejelasan berbicara). Dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui karakteristik susunan sebuah ungkapan dilihat dari perbedaan-perbedaan maksudnya.
  7. Ilmu badi’ (efektivitas bicara). Dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui sisi-sisi keindahan sebuah ungkapan. Ketiga ilmu ini: yakni ilmu bayan, ilmu ma’ani, dan ilmu badi’ merupakan bagian dari ilmu balaghoh, sebuah ilmu yang mutlak harus dikuasai oleh seorang mufassir karena dengan ilmu ini, dapat mengetahui sisi kemukjizatan Al-Qur’an.
  8. Ilmu qiroat. Dengan ilmu ini, seorang mufassir dapat mengetahui cara-cara melafalkan Al-Qur’an.
  9. Ilmu ushuluddin (dasar-dasar agama Islam). Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang makna tekstualnya menunjukkan sesuatu yang tidak boleh terjadi bagi Allah. Dan ilmu ushuluddin-lah yang akan menakwilkannya, serta menunjukkan mana yang mustahil, wajib, dan boleh bagi Allah.
  10. Ilmu ushulfiqih. Ilmu ini mempelajari cara pengambilan dan perumusan dalil-dalil hukum.
  11. Ilmu asbab an-nuzul. Ilmu ini menginformasikan makna sebuah ayat yang turun sesuai dengan latar belakang penurunannya.
  12. Ilmu nasikh-mansukh.
  13. Ilmufiqih.
  14. Ilmu hadits, yang dapat menjelaskan ayat-ayat yang global dan ambigus.
  15. Ilmu mauhibah, yakni sebuah ilmu yang dianugerahkan Allah kepada siapa saja yang mengamalkan apa yang diketahui. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Rosulullah saw. "Man ’amila bi maa ‘alima aurotsahullaahu maa lant ya’lam" (Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia miliki, maka Allah memberi ilmu yag belum ia ketahui).

Memang tidak gampang mencari orang yang benar-benar ahli dalam tafsir Al-Qur’an, karena jumlahnya sangat sedikit. Jika kita tidak menemukan orang yang benar-benar ahli tafsir; maka lebih baik kita membaca buku-buku tafsir yang keahlian penulisnya sudah diakui oleh banyak ulama. Di antara buku-buku tafsir tersebut adalah: Tafsir Jalalain, Tafsir Al-Azhar karya HAMKA, Tafsir Al-Misbach karya Quraish Shihab, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir fi Zilalil Qur-an, dan lain sebagainya yang sudah banyak beredar di toko-toko buku dan Kitab.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Subkategori Ulumul Qur`an
Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa